This World is MINE

Om Swastyastu Awighnamastu ^^

Annyeong Haseyo Yeorobeun ^o^

Welcome to the 

d’Lixie 0f HeatH

or

Denofa Elixea World

jonghyun couple

Hi everyone,

Selamat datang di duniaku yang penuh dengan ke-gaje-an ini. Tapi sebelumnya, aku ingin memperkenalkan diri dulu yaaa ^^

Real Name : Ni Luh Gede Nofa Debiliastini

Korean Name  : Kim Ryeon Woo [Sebelumnya aku menggunakan namkor JUNG HYUN JIN ]

Western Name : Veynicca Elixie Braunsweigh

Pen Name : Denofa Elixea

Nick : Elixiris 

1187629390_f

 

aku lahir dan besar di salah satu pulau yang paling terkenal di dunia, tujuannya para wisatawan-wisatawan mancanegara…yuppp! BALI , my favorite place in the world ^^ dan aku juga selalu berharap untuk mati di pulau ini.

aku adalah seorang ELF, u know?? Ever Lasting Friend-nya SUPER JUNIOR ^^

dan aku bangga jadi salah satu dari jutaan ELF di seluruh dunia , hehehe

Image

dari 15 namja tampan di Super Junior, ada 1 yang menarik hatiku…

yepp…

KIM JONG WOON a.k.a YESUNG

Image

 

hobiku adalah nulis FanFiction dengan maincast para oppa SuJu

dan aku punya namkor JUNG HYUN JIN

sosok Jung Hyun Jin di wujudkan oleh seorang ulzzang yg bernama Jung Roo,

ini dia ^^

Image

SAYANGnya … namkor ini sudah aku ‘MATI’kan, dan aku menggantinya dengan KIM RYEON WOO [divisualisasikan oleh seorang cosplayer, KIPI-Chan]

KIM RYEON WOO

kipi

BERBEDA dengan chara dari Jung Hyun Jin yang sebelumnya : kalem, elegan, dan lebih banyak diamKim Ryeon Woo memiliki sifat yang benar-benar menggambarkan aku secara nyata : ceria, blak-blakan, egoisme-nya sedikit tinggi, namun jika kalian mengenalnya lebih jauh, dia adalah sosok penyayang dan sangat rapuh. Hehehe...

Tulisanku belumlah banyak dan juga  masih belum sempurna,, bisa kalian lihat nanti disini ^^

itu aja dehh perkenalannya,, heheh

regard’s

Veynicca ^^

~Om Cantih, Cantih, Cantih Om~

Daerheinlocca – Blood Moon edited version – Part 1 [ Valleldafa ]

~ VALLÉLDAFA~

“Kakak! Aku menyukainya!”

Seorang laki-laki dengan t-shirt putih polos dan jeans army berwarna hitam berteriak kencang, menyaingi deburan ombak yang menghantam karang di depannya. Sementara itu, seorang laki-laki lain yang berdiri di ujung tebing, dengan posisi berdiri menghadap laut dan tangan dimasukkan ke dalam saku celana, membisu. Dibiarkannya udara melarikan teriakan yang dirasanya tak penting itu.

“Kakak! Berikan dia padaku!” Laki-laki ber-t-shirt putih itu kembali berteriak, namun kali ini lebih pelan dan dari jarak yang cukup dekat. Wajahnya memelas, sedikit sedih.

Laki-laki di ujung tebing itu akhirnya balik badan. Raut wajah tegasnya berkilau karena ditimpa cahaya mentari yang tepat berada di puncak langit. Memantulkan kembali cahaya yang jatuh di wajah seputih porselen itu. Mengeras dan tegas. “Memberikannya padamu?” ujarnya pelan sambil menarik sudut kiri bibirnya membentuk seringaian.

Dave—laki-laki itu—menatap Jeremy—laki-laki ber-t-shirt putih—tajam. Ia mendekati adiknya itu lalu berbisik di telinganya, “Dia bukan barang. Dia milikku, selamanya. Lycan dan werewolf manapun tahu, dia reigga-ku. Takkan kuserahkan pada siapapun, termasuk kau!”

Jeremy menegang. Desisan itu ancaman. Dan ia tahu, Dave tak pernah main-main dengan segala hal yang diucapkannya. Tapi ia tak boleh menyerah. Ia sudah terlanjur jatuh dalam pesona gadis yang sedang mereka perbincangkan. Ia tahu sebenarnya ia tak boleh melirik gadis itu karena kakaknya sudah menetapkan gadis itu adalah reigga-nya. Tapi…sebagai laki-laki, salahkah bila ia jatuh cinta pada wanita yang memikat hatinya?

“Aku takkan menyerah, Kak! Kalau kau tak memberikannya, aku akan merebutnya!” balas Jeremy dengan desisan yang tak kalah mengancam. Dave meletakkan tangan kanannya di bahu kiri Jeremy wajahnya tampak cerah dengan senyuman yang menghias. “Aku dengan senang hati meladeni tantanganmu, Je.” Dave langsung pergi. Jeremy berbalik, hendak membalas kata-kata kakaknya, tapi sosok yang beberapa detik lalu di sampingnya itu sudah lenyap. Menghilang di balik kegelapan hutan besar yang menganga di belakangnya.

“Ini takkan mudah,” desahnya sambil mendongak menatap matahari, “Véy…aku akan menyelamatkanmu. I promise.”



Valléldafa, The Dark Blackwood

Kisah ini berawal dari sebuah kerajaan manusia serigala yang bernama Valléldafa, terletak di jantung hutan kegelapan terbesar di Asia yang bernama The Dark Blackwood. Hutan ini tak terlihat dengan mata telanjang, tentu saja. Seperti halnya dunia sihir dalam kisah Harry Potter, hutan kegelapan ini juga memiliki pintu masuk khusus. Pintu masuknya ada di ruang bawah tanah sebuah kafe yang bernama d’Laplareu. Pemilik d’Laplareu ini adalah manusia setengah elixi bernama Derra McLaplareu. Elixi adalah peri hutan yang memiliki kecantikan yang memikat namun mematikan hanya dengan menyentuh rambutnya. Tapi, karena nona Derra McLaplareu adalah manusia setengah elixi, maka di dunia manusia ia tak berbahaya.

Dalam hutan Blackwood, hidup berbagai macam jenis makhluk . Mulai dari yang memiliki wujud lembut hingga raksasa kejam. Penyihir, vampire, dan manusia serigala juga memiliki wilayahnya masing-masing. Selama 300 tahun terakhir, semuanya hidup dalam damai meski beberapa kali memang terjadi pertikaian-pertikaian kecil. Wilayah hutan kegelapan ini membentang dari New Delhi dan seluruh wilayah Asia Tenggara kecuali Indonesia, seluruh wilayah Asia Timur hingga separuh dari Rusia.

Tapi, yang menjadi main focus dalam kisah ini adalah Valléldafa, kerajaan para manusia serigala. Manusia serigala di sini dibagi menjadi tiga berdasarkan kelahirannya. Manusia serigala yang berasal dari keturunan manusia serigala murni disebut dengan lycan. Manusia serigala yang tercipta karena hasil digigit oleh manusia serigala disebut dengan werewolf. Sedangkan manusia serigala yang tercipta karena menggunakan ilmu hitam atau sihir disebut shapesifter. Dalam wilayah kerajaan Valléldafa, yang dominan adalah lycan sementara werewolf dapat dihitung dengan jari karena kehadiran mereka dikatakan ‘istimewa’. Sedangkan shapesifter, hanya tersisa satu klan dan lebih memilih bersembunyi di gua-gua kaki gunung yang susah dicapai.

Valléldafa dipimpin oleh seorang raja yaitu Marcélaus Wolfbared. Ia adalah manusia serigala tertua dalam klan Wolfbared. Klan Wolfbared bukanlah klan asli Valléldafa, tapi pendatang dari hutan kegelapan Eropa. Namun, setelah menikahi seorang putri dari klan asli, dan juga karena Marcélaus memiliki kekuatan besar, maka diangkatlah ia menjadi raja. Selama 50 tahun, Marcélaus menjadi pemimpin yang disegani. Dia memiliki dua putra asli—lycan—dan seorang putra yang berasal dari kelahiran bulan darah atau werewolf. Putra-putra itu adalah Davichi Wolfbared atau yang sering dipanggil Dave, Nathan Wolfbared yang sering dipanggil Nath, dan Jeremy Wolfbared atau Je. Jeremy adalah putra kelahiran bulan darah. Ia menjadi manusia serigala karena digigit langsung oleh Marcélaus pada saat periode akhir bulan darah yang terjadi tiap 13 tahun sekali, tepat 25 tahun yang lalu.

Dave—putra pertama—berusia 32 tahun. Sosoknya tinggi tegap dengan garis muka yang tegas. Kulitnya sangat putih sehingga nyaris menyerupai kulit vampire. Dia adalah lycan atau manusia serigala keturunan asli terkuat kedua dalam klan Valléldafa. Dave memiliki seorang reigga atau istilah bagi wanita pilihan seumur hidup dari klan Brauné, Véynicca Elixie Brauné.

Putra kedua adalah Nathan, berusia 30 tahun. Berbeda dengan kakaknya, Nath memiliki postur yang agak berisi dan besar. Wajahnya mengambil garis sang ayah, tegas dan kejam. Nath memang tak sekuat kakaknya, tapi kebrutalannya sangat terkenal.

Putra yang ketiga adalah Jeremy, berusia 9 tahun ketika dirubah. Kini usianya sudah beranjak 28 tahun. Dibandingkan dua putra asli, Jeremy memiliki postur yang lebih pendek dan kurus. Kepalanya sedikit besar dan jari-jarinya mungil. Matanya tajam dengan wajah yang terkesan manis. Jeremy adalah kelahiran bulan darah atau biasa disebut blood moon werewolf, jadi ia tak sekuat lycan saat hari-hari biasa. Tapi, ketika bulan darah tiba Jeremy menjadi satu-satunya werewolf yang paling berkuasa atas Valléldafa. Dalam periode bulan darah, selama 3 malam purnama penuh dan bulan berubah merah, kekuatan Jeremy akan melebihi kekuatan sang raja.

Ketiga putra manusia serigala itu hidup dengan damai dan layaknya saudara dalam sebuah keluarga besar, mereka terkadang bertikai kecil selama beberapa saat, namun tak lama mereka akur kembali. Terkadang mereka berkeliaran dengan santai di dunia manusia, menggoda gadis-gadis manusia namun tak sampai menyakiti. Bahkan Dave dan Nath saat ini kuliah di sebuah perguruan tinggi di Seoul. Jeremy sendiri sudah berhenti dari kegiatan belajar yang dianggapnya membosankan. Ia lebih sering berkeliaran untuk bernyanyi. Ya, Jeremy memiliki suara yang mampu memikat siapapun yang mendengarnya.

Tapi…ketika Dave sudah cukup umur untuk menentukan seorang reigga—pendamping hidup sampai mati—perselisihan terpendam antara Jeremy dan Dave pun mencuat. Véynicca. Gadis lycan yang ditunjuk langsung oleh Dave sebagai reigga-nya adalah gadis yang selama ini disukai oleh Jeremy. Jeremy tak terima, tentu saja.

Véynicca yang berasal dari klan Brauné adalah gadis lycan atau manusia serigala keturunan murni, bukan werewolf atau manusia serigala akibat gigitan lycan. Sosoknya mungil dengan kulit putih dan rambut panjang berwarna pirang. Usianya 5 tahun lebih muda dari Jeremy. Sejak pertama kali Jeremy memasuki dunia barunya itu, gadis inilah yang menemaninya setiap hari.



“JEEEE!!! JEREMYYYY!!! Heiii!!! Di sini!!!” Seorang gadis melambai-lambaikan tangannya dari arah sungai yang memecah hutan kegelapan, pembatas negeri Valléldafa dengan Rollénciuz, negeri para penyihir. Jeremy yang kebetulan saat ini memang memiliki janji untuk berburu bersama Véynicca—gadis itu—langsung tersenyum dan melesat turun ke tepian sungai. Loncat begitu saja dari tebing.

“Véy! Sudah lama?” tanya Jeremy sambil merapikan pakaiannya. Véynicca tersenyum lalu menjulurkan tangannya ke arah kepala Jeremy, “Daun yang cantik.” Véynicca menunjukkan daun berbentuk hati yang tadi melekat di kepala Jeremy. Berwarna merah keunguan. “Aku sudah lama. Kemana saja kau?” ujar Véynicca merajuk.

“Menemui tunanganmu!” seloroh Jeremy datar. Véynicca menoleh, menatapnya. Mata bulat berwarna biru safirnya berkilat, “Dave? Kau tak berkelahi lagi ‘kan?”

Jeremy menggeleng. Ia kemudian menatap Véynicca lembut. “Let’s go. Aku sudah sangat lapar. Rasanya, daging rusa akan terasa sangat enak malam ini.” Jeremy melesat, seiring dengan berubahnya wujud manusia itu menjadi seekor serigala berwarna hitam pekat. Véynicca merenggut lalu ikut melesat, berubah menjadi sosok serigala berwarna putih bersih.



Di lain tempat…

Dave duduk di atas batang pohon besar yang jatuh melintang di tengah hutan, tepat di depan istana. Wajahnya tampak sendu dengan gurat-gurat penuh kekesalan. Bagaimana tidak…baru saja matanya melihat sang reigga berlari bersama adiknya. Dave tahu…reigga-nya sudah sangat lama tumbuh besar bersama dengan Jeremy. Mereka sudah bertahun-tahun hidup sebagai sahabat, kemana pun selalu bersama. Dan persahabatan antara laki-laki dan perempuan tak ada yang murni, ‘kan?

Dave tahu… dengan melihat wajah reigga-nya saja, ia tahu bahwa gadis itu hanya menerimanya setengah hati. Ada yang tak terbaca dari pikiran gadis itu. Disembunyikan dengan sengaja oleh Véynicca. Ya…lycan dan werewolf memiliki kemampuan membaca pikiran satu sama lain. Tapi beberapa dari mereka juga memiliki kemampuan untuk menyembunyikan perasaan hati mereka agar tak dibaca oleh yang lainnya. Dan klan Brauné adalah salah satu klan yang memiliki kemampuan menyembunyikan perasaan hati itu. Véynicca, seperti yang Dave tahu, telah menyembunyikan perasaan hatinya agar tak terbaca olehnya.

“Dave?”

Lamunan Dave buyar oleh sapaan dari Nathan. Pria mendongak dan mendapati seekor serigala abu-abu pekat bertransformasi menjadi sosok tinggi besar dengan jubah sewarna dengan wujud serigalanya. Nathan tersenyum lalu mengambil tempat di sebelah Dave.

“Kau kenapa?” tanyanya. Dave bungkam. Tanpa menjawab pun, Nathan pasti sudah membaca pikirannya. Itu bisa didengar dari cara bertanyanya yang lebih bermakna memastikan daripada ingin tahu. “Aku harus mempertahankannya, Nath. Bagaimana pun caranya. Aku mencintainya sejak pertama kali aku melihatnya lahir. Dia putih. Halus…begitu cantik. Tapi dia juga disukai oleh Jeremy.”

Dave menghembuskan napasnya agak keras sehingga Nathan menoleh padanya. “Kau takut pada Jeremy, eoh?” tanya Nathan lagi dan Dave tersenyum. “Takut? Absolutely not. Aku tak takut padanya. Aku…aku hanya takut jika melukai perasaan Véynicca. Aku takut dia membenciku,” seloroh Dave pelan. Nathan menepuk pundak kakaknya lembut. “Tunjukkan pada reigga-mu kalau kau lebih baik dari Jeremy. Ingat Dave…batu sekeras apapun akan hancur jika diterpa angin keras terus-menerus,” ujar Nathan sambil tersenyum. Dave menoleh pada adiknya itu lalu tersenyum. “Terima kasih, Nath. Akan kucoba.”
Nathan lalu bangkit, dalam sekian detik ia kembali bertransformasi menjadi serigala. Mata pekatnya menatap tajam pada Dave, “Makan malam?”

Dave menggeleng. “Aku tak ingin melihat Véynicca dan Jeremy berburu bersama. Aku masih kenyang. Pergilah dan hindari para vampire. Malam ini juga siklus mereka untuk berburu,” ujar Dave lalu berdiri. Ia hendak kembali ke istana untuk bertemu dengan ibunya. Nathan mengangguk lalu secepat kilat menghilang di balik gelapnya batang-batang pohon yang tumbuh rapat.



Lotte World, Seoul – Dunia Manusia

Seorang gadis berpakaian serba hitam dan rambut berwarna pirang yang dibiarkan tergerai, berjalan pelan dengan gula-gula kapas di tangannya. Matanya yang berwarna biru safir menelisik tiap toko yang dilewatinya. Di depan sebuah toko perhiasan, gadis itu berhenti dan menatap kagum pada sebuah kalung yang terbuat dari untaian emerald berwarna ungu dengan bandul berbentuk bunga lonceng berbahan permata. Indah dan mewah.

“Katakan bahwa kau sangat menginginkannya,” seloroh seorang laki-laki dengan sweater berwarna cokelat terang dan dalamannya sebuah kemeja putih. Celana jeans membalut dua tungkai kakinya. Gadis itu menoleh dan nyaris menjatuhkan gula-gulanya.

“Dave. Kau mengagetkanku!” Gadis itu mengurut dadanya lalu mendelik kesal pada laki-laki itu. Tapi tak lama gadis itu melangkah meninggalkan etalase itu tanpa mencoba untuk melirik lagi pada kalung yang menarik hatinya itu. Dave mengikutinya dari jarak dekat. Senyum terukir di wajahnya. Jarang-jarang ia bisa mengikuti reigga-nya seperti ini. Seperti…

“Apa kau berniat mengajakku kencan, Mr. Wolfbared?” ujar Véynicca—gadis itu—sambil tiba-tiba berhenti dan berbalik sehingga Dave nyaris menabraknya jika ia tak mampu mengontrol langkahnya.

“Eoh? Kencan? Ah..ti..iya! Kencan! Aku tak pernah kencan denganmu. Karena ayah menugaskanku mencari sesuatu di sini dan kebetulan melihatmu, ya…sekalian saja,” seloroh Dave sambil menyejajarkan langkahnya di sebelah Véynicca. Gadis itu menaikkan sebelah alisnya. Merenggut. Bukan…bukan ia tidak suka jika Dave yang notabene adalah ‘kekasihnya’ mengikutinya. Tapi karena hari ini ia memang berencana ke suatu tempat sendirian. Bahkan ia tak memberitahu Jeremy jika ia berkeliaran di dunia manusia.

“Kau tak suka, Miss. Brauné?” Dave tiba-tiba saja memecah lamunan gadis di depannya. Véynicca tergeragap lalu buru-buru menggeleng. “Tentu saja tidak, Dave. Hanya saja…”

“Kau punya janji dengan Jeremy. Iya, ‘kan?” tebak Dave begitu saja sambil menatap dalam mata reigga-nya. Véynicca menggeleng pelan. Ia melemparkan senyum lembutnya pada Dave, satu tangannya terangkat, mengelus pelan pipi laki-laki itu.

“Kau cemburu, ya? Aku dan Jeremy hanya sahabat. Lagipula…kau sudah mengesahkanku sebagai reigga-mu di depan seluruh klan manusia serigala. Aku akan berdosa jika memilihnya,” ujar Véynicca halus. Tubuh Dave sedikit menegang. Bahkan dalam kalimat halus itu, ia masih bisa merasakan sesuatu yang disembunyikan reigga-nya. Tapi ia berusaha berpikir positif untuk saat ini. Berusaha untuk tetap tersenyum.

Chuu~

Dave mengecup pelan pipi kanan Véynicca tiba-tiba. Membuat wajah gadis itu bersemu merah. Gadis itu lalu buru-buru mengalihkan pandangannya dan mulai melangkah lagi. Dave tersenyum lalu mengikuti langkahnya.



Jeremy menatap Véynicca yang berjalan menjauh dari pandangannya bersama sang kekasih, Dave. Dan baru saja matanya menatap adegan romantis yang membuat sesuatu dalam perutnya jatuh mencelos. Dadanya terasa panas, menjalar hingga ke otak.

Sampai saat ini pun, ia tak pernah mengecup pipi gadis yang dicintainya. Ia tersadar…ia tak pernah menunjukkan perhatian lebih pada Véynicca. Perlakuannya pada gadis itu masih terbatas peraturan dalam persahabatan. Apalagi Dave telah mengesahkan gadis itu sebagai reigga-nya. Jadi, ia tak bisa menyalahkan Véynicca yang hanya menganggapnya sahabat. Tak lebih. Tapi kemudian ia berpikir…apakah Véynicca tak peka dengan perhatiannya selama ini?

“Apa yang kau lakukan di sini, anak muda?” seorang pria berkacamata tiba-tiba menepuk punggungnya dan membuatnya tersentak. Jeremy menoleh dan membungkuk pelan, memberi hormat pada pria yang tampak sudah sangat tua, namun berpakaian layaknya remaja. Topi rajutan berwarna cokelat kopi, kacamata hitam besar, kemeja hitam, rompi putih, celana jeans hitam, dan sepatu boot.

“Maaf Tuan. Apa aku menghalangi jalanmu?” tanya Jeremy ramah. Pria itu tersenyum lalu menggamit tangan kanan Jeremy. Jemarinya menelusuri garis tangan Jeremy. Mengernyit sejenak lalu tersenyum.
“Kau bukan manusia biasa. Siapa namamu?” tanya pria itu sambil tersenyum. Jeremy tergeragap. Ia menggaruk belakang kepalanya yang tiba-tiba terasa gatal.

“Kau bisa tahu? Ah…namaku Jeremy Wolfbared, blood moon werewolf. Senang bertemu denganmu Tuan,” ujarnya pelan. Pria itu tersenyum samar. Matanya menatap tajam manik mata Jeremy. “Tidak mudah menuju hidup’nya’. Dia terlindungi. Kau perlu usaha lebih keras lagi. Dia memiliki sesuatu yang disembunyikan. Membuatnya menjadi incaran kaummu dan kemungkinan dia disakiti itu sangat besar. Kau memegang satu kunci hidupnya. Dan satu lagi dibawa oleh kaum lawanmu. Dia tahu kau mencintainya. Tapi dia takkan mencintaimu begitu saja…sebelah hatinya terikat atau tepatnya sudah diikat oleh seseorang. Itu halanganmu.” Pria itu berujar panjang lebar. Ia lalu melepaskan tangan Jeremy yang sedari tadi dipegangnya, lalu mengalihkan tangannya ke pundak kiri Jeremy.

“Berusahalah. Bulan darah ketiga belas akan datang dua purnama lagi. Itulah saatmu mendapatkannya.”

Pria itu menepuk-nepuk pundak Jeremy lembut lalu melangkah pergi tanpa mengizinkan pemuda itu membalasnya. Jeremy menoleh ke belakang dan tak seorang pun di sana. Percuma menggunakan indera serigalanya, tak terlacak di udara yang dihirupnya. Siapa pria itu?

Jeremy melangkah ke bangku beton tak jauh dari tempatnya berdiri. Ia menatap telapak tangan kanannya sendiri dan begitu kagetnya ia manakala melihat ada guratan berbentuk lingkaran dan dengan ukiran rumit berwarna hitam tergambar di sana.

“Apa ini?!” sergahnya lalu mencoba menghapusnya tapi guratan itu makin pekat. Otak laki-laki itu kembali terperangkap dalam pertanyaan besar : Apakah yang dikatakan pria itu adalah ramalan?

“Je?” sebuah suara tiba-tiba menyentakkan pemuda kembali ke alam sadarnya. Ia mendongak dan jantungnya seketika menari, seirama dengan gerakan makhluk dalam tubuhnya yang kegirangan melihat senyum gadis yang menyapanya.

“Véy? Kapan kau datang? Bukankah kau pergi dengan Kak Dave?” tanya Jeremy spontan dan membuat Véynicca langsung menautkan dua alisnya, “Kau…kau mengintaiku?”

Jeremy menggeleng mencoba berdusta tapi gagal. Ia tahu, Véynicca sudah membaca pikirannya sejak tadi. Jeremy hanya bisa menggaruk belakang kepalanya.

“Kau ini. Aku tadi hanya berniat pergi ke suatu tempat di Jinan. Tapi entah darimana Dave datang, yaahh…kami langsung berkencan. Tapi hanya sebentar karena ia tiba-tiba mendapat panggilan,” ujar Véynicca pelan. Jeremy menatapnya pelan, lalu cepat-cepat mengalihkannya.

“Siapa pria itu, Je? Apa dia mengatakan sesuatu tentangku?” ujar Véynicca tiba-tiba. Jeremy tak merespon. Ia benar-benar tak tahu harus menjawab apa. Hanya dipandanginya dua bola mata berwarna biru safir itu lalu tersenyum.

“Tidak. Dia bukan siapa-siapa. Sebentar lagi jam malam Véy. Kita harus pulang. Nona McLaplareu takkan suka jika kita menggedor pintu restorannya terlalu larut untuk melewati portal,” ujar Jeremy. Ia bangkit lalu menggamit tangan Véynicca, menarik gadis itu agar lari bersamanya.

“YAK!!! PELAN-PELAN BODOH!!!”



Jeremy duduk di depan istana, melamun. Angin malam yang berhembus kencang bisa saja menusuk hingga kulitnya dan membuatnya menggigil jika saja ia bukan werewolf. Perlahan ia menatap ke langit yang malam itu sedikit berawan. Bulan sabit menyembul di balik rangkaian awan.

Bulan darah akan segera tiba, sesuai yang dikatakan pria kemarin siang. Bumi, matahari, bulan, dan Mars akan segera berada dalam satu garis sejajar. Biasa terjadi tiap 13 tahun sekali dan membentuk bulan darah. Ya…bulan akan terkena imbas cahaya yang dipantulkan Mars yang terang sehingga warna merah menyelimutinya.

Periode yang ditunggu-tunggu manusia serigala untuk menghancurkan klan vampire sebenarnya, tapi tidak saat ini. Sudah 300 tahun, werewolf dan vampire hidup dalam damai. Tapi saat ini, klan manusia serigala menunggu-nunggu periode bulan darah untuk membuat anggota baru.

Dan bagi Jeremy, periode bulan darah ini akan dimanfaatkannya untuk merebut Véynicca dari tangan kakaknya.

“Dia memiliki sesuatu yang disembunyikan. Membuatnya menjadi incaran kaummu dan kemungkinan dia disakiti itu sangat besar. Kau memegang satu kunci hidupnya. Dan satu lagi dibawa oleh kaum lawanmu. Dia tahu kau mencintainya. Tapi dia takkan mencintaimu begitu saja…sebelah hatinya terikat atau tepatnya sudah diikat oleh seseorang. Itu halanganmu.”

Kembali terngiang perkataan pria yang ada di dunia manusia itu. Mengganggu pikiran Jeremy.

‘Apakah Véynicca adalah sesuatu atau memiliki sesuatu yang bisa menyebabkan kehancuran?’ pikir Jeremy. Ia menggaruk dagunya yang tiba-tiba terasa gatal. Berpikir lagi, ‘…sebelah hatinya terikat atau lebih tepatnya sudah diikat oleh seseorang.’

‘Siapa orang itu? Apakah Dave?’ pikirnya lagi. Ia memejamkan matanya, mencari tahu dengan pikirannya. Mencium bau udara yang bisa saja mengantarkan aroma tubuh Véynicca di kejauhan.

“Jeremy…apa yang kau lakukan?”

Serta merta Jeremy terperanjat. Suara barusan membuyarkan konsentrasinya. Perlahan dibuka matanya dan mendongak. Seorang gadis cantik dengan tanktop berwarna abu-abu, celana pendek sebatas paha dan rambut panjang yang dikuncir kuda, tersenyum padanya.

“Alicia…apa yang kau lakukan di sini?” tanya Jeremy sambil beringsut bangkit. Gadis lycan bernama Alicia itu menelengkan kepalanya. Mata berwarna coklat muda-nya berkilau di bawah bayang-bayang rembulan. Kulitnya yang seputih susu, begitu menggoda siapapun. “Hanya jalan-jalan,” jawab gadis itu singkat. Bohong, sudah pasti. Jeremy tahu betul kalau Alicia ke istana mencarinya.

Alicia mengambil posisi duduk di tempat Jeremy tadi bercokol. Menyilangkan dua kakinya, memperlihatkan mulus pahanya. Jeremy tersenyum. Sangat tahu kalau Alicia menggodanya. Tapi Jeremy tak tertarik. Alicia, hanyalah salah satu dari sekian banyak wanita yang suka menggodanya. Tapi, hanya Véynicca-lah yang mampu menggoda imannya meski ia tak memiliki tubuh seseksi Alicia.

“Sampai kapan kau akan mencoba merebut reigga kakakmu sendiri, Je? Itu hanya akan sia-sia saja,” desah Alicia. Jeremy terdiam, masih dalam posisi berdiri. “Aku hanya akan berhenti jika dia sudah ada di pelukanku,” balas Jeremy. Terdengar erangan mengejek Alicia, menertawakan sikap bodoh Jeremy.

“Ada yang datang…” Alicia buru-buru bangkit. Matanya menatap tegang pada kegelapan di sebelah kirinya. Hal yang sama dilakukan Jeremy. Ada bau asing menyeruak dalam indera penciuman mereka. Bau yang keras, menusuk, dan…

-SRAK, SRAK-

Sosok besar dan tegak. Berbulu keemasan dan mengkilat. Dua daun telinganya mencuat tajam ke atas. Matanya besar merah dan … lapar.

“Ggggrrrrrr….”

Jeremy dan Alicia memasang kuda-kuda, sebisa mungkin mewaspadai lycan asing yang mencoba masuk ke dalam istana.

“Siapa kau?!” teriak Jeremy, mata hitamnya menatap tajam pada mata lycan keemasan itu. Alicia waspada dalam jarak 2 meter di belakang Jeremy. Terdengar geraman pelan dari lycan emas yang juga berada dalam posisi siaga itu.

“Serahkan si putih itu, maka kalian aman,” desis si lycan emas itu, membuat Jeremymenautkan dua alisnya.

“Kau…mencari Véynicca? Siapa kau?!” tukas Jeremy geram. Makhluk di hadapannya itu tertawa. Lebih terdengar seperti geraman yang mengejek.

“Kau tak perlu tahu siapa aku. Aku hanya menginginkan lycan putih itu. Sebelum bulan darah naik di malam purnama pertama, serahkan dia padaku atau…kuhancurkan kerajaan ini!”

Tegang.

Angin berhembus pelan membelai dedaunan yang masih berkutat erat pada rantingnya. Jeremy masih berdiri tegak di hadapan makhluk itu.

“Tunggu sampai bulan darah, aku akan membunuhmu keparat!” teriak Jeremy yang sontak membuat lycan emas itu terkekeh. “Kau bukan tandinganku, anak kecil! Aku bisa membunuhmu dengan gampang. Jadi, turuti saja perintahku!” geramnya.

Alicia terhenyak, sadar. Dari aroma yang menguar dari tubuh lycan emas itu, ia bisa tahu kalau makhluk itu bukan kelahiran bulan darah ataupun kelahiran murni. Dan sebagai keturunan klan Julliene, Alicia mampu mengendus seberapa besar kekuatan lycan itu.

“Jeremy, jangan gegabah,” desahnya pelan namun cukup keras sehingga Jeremy bisa mendengarnya.

“Apa?!” gertak Jeremy dengan mata yang mulai berkilat kemerahan, tanda ia akan berubah wujud. Alicia menggeleng pelan, dengan amat sangat memohon dalam sorot matanya agar Jeremy mundur.

“Julliene? Kau gadis pintar, fufufufu.” Lycan emas itu menatap Alicia tajam dan menyeringai pelan, mundur selangkah lalu menghilang di balik kegelapan.



MUSIC BOX || FF Present from C.Ryn [Jong-Hyun Couple]

382240_607886459228929_2048968669_n
「Music Box」

A fanfiction By C.Ryn

Casts : – Kim Jong Woon AKA Yesung (Super Junior)
– Jung Hyun Jin (RP)

Supporting : – Jung So Yeon
– Jung Ji Hyun

Length : Oneshot

Rated : T

Disclaimer : Made by me, inspirated by many things. Just warned, plagiarism and copy-cat are disallowed if you want to be a good writer 🙂

N.B : belum diedit sama sekali –a ada yang janggal? tell me!

~Music Box~

Jung Hyun Jin melangkah di sepanjang trotoar jalan dengan pandangan lurus. Kedua tangannya dijejalkan ke saku celana. Headphone putihnya terpasang dengan volume musik maksimal, membuat kepalanya sesekali mengangguk sendiri mengikuti irama musik.

Sabtu pagi di awal musim panas. Hari ini ia tidak punya jadwal apa pun, baik mengajar –sedang masa libur musim panas- maupun janji dengan teman-temannya. Sepertinya semua orang sedang sibuk dan hanya dirinya yang tidak punya kegiatan untuk dilakukan. Maka ia memutuskan untuk berjalan-jalan, sekedar melihat dunia luar yang sepertinya sudah lama sekali tidak pernah diliriknya karena berbagai kesibukan di hari biasa.

Hyun Jin berhenti di perempatan jalan, menunggu lampu hijau berganti merah agar ia bisa menyeberang. Beberapa orang meliriknya dengan pandangan aneh. Entahlah, mungkin karena pakaiannya—kaus ungu belel, celana mini hitam, dan sepatu kets yang dulunya putih bersih. Hyun Jin tidak ambil pusing. Memangnya pakaiannya ini milik mereka?

Tepat saat ia mengalihkan pandangan ke arah lain, musik di headphonenya berhenti. Hyun Jin mengernyitkan dahi dan meraih ponsel di saku celananya. Battery low.

“Damn,” umpat Hyun Jin dengan gigi terkatup rapat. Ia memutuskan untuk mematikan ponselnya saja, tapi tetap membiarkan headphonenya menutupi telinga, membuatnya terlihat seperti tidak peduli.

Lampu berganti merah, Hyun Jin kemudian menyeberang bersama pejalan yang lain. Tapi ditengah jalan, terdengar dentingan piano yang membuat langkah Hyun Jin membatu.

Dari mana suara itu berasal?

Hyun Jin mengangkat tangannya menyentuh sisi wajahnya, sekedar memastikan headphonenya memang masih terpasang.

Dari mana?

Hyun Jin menoleh ke kiri dan kanan. Hanya ada mobil dan orang-orang yang bahkan tidak lagi meliriknya dua kali.

Dari mana?

Kebingungan singkat Hyun Jin diinterupsi saat bahunya ditabrak seseorang dari belakang yang kemudian berlalu begitu saja tanpa meminta maaf. Hyun Jin bergegas ikut menyeberang—lampu sudah akan kembali hijau. Dentingan piano terdengar semakin jelas.

Hyun Jin memang penikmat musik, tapi ada sesuatu dalam dentingan itu yang jelas menariknya, membuatnya terus berjalan mencari sumber suara. Tiap langkah, dentingan itu semakin jelas di telinganya. Sampai ia tiba di depan sebuah toko musik.

Pada papan nama besar berwarna cokelat gelap yang terpampang di atas pintu masuk toko hanya tertulis satu kata. Music Box. Atau itu dua? Terserah.

Jadi, dari sinikah suara itu?

Hyun Jin kemudian menyadari, ia sudah tidak mendengar apa-apa. Tidak ada dentingan piano atau apa pun lagi sejak ia tiba di depan toko itu. Benar-benar aneh.

Sudah terlanjur berada disana, ia mendekati pintu kaca dan mengintip bagian dalam. Dinding-dindingnya didominasi dengan warna kayu, begitu juga empat rak yang berbaris pararel. Berbagai jenis gitar listrik dan akustik digantung dengan rapi di satu sisi, lalu ada dua perangkat lengkap drum di sudut ruangan, dan entah alat apa lagi namanya, Hyun Jin juga tidak tahu. Banyaknya barang di dalam toko yang tidak terlalu besar itu membuat ruangannya jadi terlihat semakin sempit.

Tapi bukan itu yang menarik perhatian Hyun Jin. Laki-laki yang berdiri di balik meja kasir dan mengelap permukaan sebuah keyboard-lah yang melakukannya.

Mata Hyun Jin memperhatikan gerakan telaten laki-laki itu membersikan si keyboard, lalu mengangkat keyboard yang kelihatan berat itu dan berjalan mantap ke arah satu rak, lalu meletakkannya dengan hati-hati. Semua gerakannya seperti melantunkan irama. Denting piano.

Hyun Jin tidak menyadari kalau laki-laki itu berhenti ditengah langkahnya kembali ke meja kasir dan balas menatapnya. Kemudian laki-laki itu mendekat dan mengetuk pintu kaca itu, membuat Hyun Jin seketika menegakkan punggungnya karena kaget.

Laki-laki itu tidak memasang ekpresi apapun dan berbalik, kembali ke tempatnya semula di balik meja kasir.

Hyun Jin menimbang-nimbang sesaat, menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan, mesebelum akhirnya dengan gagah mendorong pintu kaca itu dan melangkah masuk.

Hal pertama yang disadari Hyun Jin adalah aroma kayu jati yang lembut memenuhi ruangan, membuat perasaannya ringan. Yang kedua, terdengar alunan lagu yang familiar di telinganya, What A Wonderful World. Yang ketiga, ternyata laki-laki penjaga kasir itu sedang menatapnya dengan pandangan bertanya.

“Eoseo oseyo (selamat datang),” gumam laki-laki dan tersenyum kecil.

Hyun Jin melepas headphonenya dan menyampirkannya di leher. Ia baru saja akan balas tersenyum saat laki-laki itu kembali menunduk tidak peduli. Hyun Jin menelan senyumnya bulat-bulat dan memutuskan untuk melihat-lihat. Tapi karena Hyun Jin hanya sebatas penikmat musik dan bukan pemain, ia tidak mengerti apa-apa saja yang ada disana, sehingga yang dilakukannya hanya berputar-putar seperti orang hilang.

“Ahgassi,” Hyun Jin mengangkat kepala dengan semangat saat ia mendengar laki-laki itu memanggilnya. Sepertinya laki-laki itu menyadari kalau Hyun Jin tidak datang dengan tujuan khusus. “Ada yang bisa kubantu?”

Ya, ambilkan aku senyummu yang tadi, batin Hyun Jin, kemudian merutuki diri karena bisa-bisanya ia berpikir seperti itu untuk orang yang baru ditemuinya kurang lebih lima menit. “Eh, aku ingin memberi kado untuk seseorang,” jawabnya asal.

Laki-laki itu keluar dari meja kasir dan mendekat padanya. “Chingu?”

Hyun Jin menggeleng.

“Aein (kekasih)?”

Hyun Jin menggeleng.

“Bumonim (orang tua)?”

Hyun Jin kembali menggeleng.

Laki-laki itu memiringkan kepala dengan wajah bingung. “Jadi?”

“Eh,” Hyun Jin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Itu… dia orang yang baru kutemui dan ingin kuajak bicara. Tapi aku tidak tahu harus memberikan apa untuk memulainya.”

“Aku tidak tahu kalau jaman sekarang harus memberikan sesuatu baru boleh bicara,” komentar laki-laki itu dengan suara menggumam. Kemudian ia kembali menatap Hyun Jin, “Bagaimana dengan kotak musik saja?”

“Kalian menjualnya?”

Laki-laki itu mengangguk. “Kau mau lihat dulu?”

Hyun Jin kemudian mengikuti laki-laki itu ke meja kasir. Sementara laki-laki itu menunduk di dalam dan mencari, Hyun Jin kembali membiarkan matanya melihat-lihat sekitarnya.

Laki-laki itu berdiri dan meletakkan kotak musik bening berbentuk piano di atas meja kasir. Hyun Jin memperhatikan benda berbahan kaca itu sesaat dengan mata berbinar.

“Yeppeoyo.”

“Kau mau membelinya?”

Hyun Jin mengangguk tanpa sempat berpikir.

“Aku akan mengambil kotaknya dulu di dalam. Gidariseyo.” Kemudian laki-laki itu membawa kotak musik piano itu dan menghilang di balik pintu.

Hyun Jin kemudian menepuk saku celananya. Dompet. Ia mendesah lega. Untung saja ia tidak lupa membawa dompet. Kalau tidak, mau dibayar dengan apa benda imut tadi?

Tidak lama kemudian, laki-laki itu kembali dengan kotak putih di tangan dan meletakkannya di atas meja kasir. Hyun Jin membayarnya dan mengambil kotak itu, lalu mengucapkan terima kasih yang dibalas dengan senyum kecil.

Begitu tiba di depan pintu kaca, suara laki-laki itu membuat Hyun Jin berhenti dan kembali menoleh, “Pastikan kau mencoba dulu suaranya di rumah. Bawa saja kembali kemari kalau ada masalah.”

Hyun Jin tersenyum ceria. “Thank you.”

***

Gadis itu kembali lagi kesana di Sabtu pagi yang berikutnya, dengan penampilan yang sama santainya. Dan walau pun memakai kaus yang berbeda, tetap warna ungu lagi.

“Eh, annyeong haseyo,” sapa Hyun Jin yang langsung menghampiri meja kasir—tepatnya menghampiri laki-laki itu, laki-laki yang sama dengan yang minggu lalu ia temui.

Laki-laki itu tersenyum. “Ada yang bisa kubantu?”

“Aku mau membeli kotak musik.”

“Ada apa dengan kotak musik yang baru kau beli minggu lalu?”

“Itu, eh, yang itu diminta oleh temanku,” jawab Hyun Jin seadanya. “Jadi aku mau beli lagi untuk hadiah. Yah, begitu.”

Laki-laki itu menyipitkan mata kecilnya. “Apa kau sudah mencobanya di rumah?”

“Sudah. Suaranya bagus,” jawab Hyun Jin cepat. Tidak, itu bohong. Sebenarnya ia bahkan belum membuka kotaknya. “Tapi itulah, aku belum sempat memberikannya.”

Laki-laki itu menatapnya sesaat, lalu, “Jankkamanyo.” Ia membungkuk mengambil sesuatu, dan setengah menit berikutnya satu kotak musik lain yang sama dengan yang minggu lalu Hyun Jin beli sudah ada di atas meja kasir.

Hyun Jin tersenyum cerah. “Aku mau ini.”

“Aku akan mengambil kotaknya dulu di dalam. Gidariseyo.” Laki-laki itu membawa kotak musiknya ke dalam dan menghilang di balik pintu.

Hyun Jin menunggu sambil mendengarkan lagu yang mengalun dari audio toko itu. Touche Mon Amour. Tanpa sadar sepatunya bergerak kiri dan kanan.

Hyun Jin tidak tahu apa yang sebenarnya membuat dirinya kembali ke toko ini. Mungkin ia hanya bosan di rumah, atau mungkin ia ingin memastikan kalau toko ini bukan hasil khayalannya yang maha aktif seperti yang ia kira.

Laki-laki itu kembali, dengan kotak putih ditangannya yang kemudian diletakkan diatas meja kasir.

Atau mungkin ia hanya ingin melihat laki-laki ini lagi.

Hyun Jin membayarkan uang sesuai dengan harga kotak musik itu. Tapi sebelum ia pergi, ia mengumpulkan seluruh keberanian untuk bertanya, “Boleh kutahu namamu?”

Laki-laki itu menatap lekat mata Hyun Jin selama beberapa saat seakan mencari tahu apa yang dipikirkannya, lalu menjawab, “Aku biasa dipanggil Yesung. Kau bisa memanggilku begitu juga.”

“Ah, geuraeyo?” Hyun Jin mengangguk dan tersenyum lebar. “Jeoneun Hyun Jin-eyo. Jung Hyun Jin.”

“Ne, Jung Hyun Jin-ssi.” Yesung balas tersenyum. “Pastikan kau memeriksa suara kotak musikmu di rumah. Bawa saja kembali kemari kalau ada masalah.”

Hyun Jin mengangguk, lalu beranjak keluar dari toko itu. Tapi sebelum benar-benar pergi dari sana, ia menatap ke balik kaca jendela. Menatap laki-laki itu.

Yesung.

***

Sabtu pagi yang lain. Tempat yang sama, laki-laki yang sama di balik meja kasir, dan masih gadis yang sama. Tidak ketinggalan, warna ungu—kali ini celana selututnya, yang dipadukan dengan kaus hitam yang digulung lengannya sampai nyaris mencapai bahu.

“Annyeong haseyo, Yesung-ssi.”

Yesung tersenyum sebagai balasan. “Ada yang bisa kubantu, Hyun Jin-ssi?”

“Aku…” Hyun Jin tertawa kecil. “Aku mau beli kotak musik. Yeah, again.”

“Ada apa dengan kotak musik yang baru kau beli minggu lalu?” tanya Yesung, mengulang pertanyaan yang sama dengan minggu lalu.

“Aku menghilangkannya,” jawab Hyun Jin. “Maksudku, aku lupa dimana menaruhnya, jadi aku memutuskan untuk beli lagi. You know, itu seharusnya untuk hadiah, ‘kan?.”

“Apa kau sudah mencoba yang itu di rumah?”

“Sudah. Suaranya bagus.” Bohong lagi.

Yesung menatapnya sesaat, lalu mendesah pelan, “Kau mau yang sama seperti itu atau yang lain?”

“Kalau kau masih punya yang sama, aku mau,” jawab Hyun Jin.

“Jankkamanyo.” Yesung membungkuk untuk mengambil kotak musik lain, tapi kali ini tidak meletakkannnya di meja kasir terlebih dahulu. “Aku akan mengambil kotaknya. Gidariseyo.” Lalu ia berlalu bersama kotak musik itu ke balik pintu.

Sambil menunggu, Hyun Jin mendengarkan lagu yang –seperti biasa- melantun dari audio. Sepertinya ia mengenal lagu ini. Kalau tidak salah, A Prayer. Dinyanyikan Jung Jae Il atau siapa, entahlah. Hyun Jin tidak terlalu suka lagu slow seperti ini. Membuat orang mengantuk.

“This is it.” Yesung tahu-tahu sudah berada di hadapannya.

Hyun Jin segera membayarkan uang untuk kotak musik itu. Sementara Yesung menghitung kembaliannya dengan mesin kasir, Hyun Jin bertanya sekedar ingin tahu, “Apa kau suka lagu yang seperti ini?”

Yesung diam dan mendengarkan lagu yang diputar di audio sesaat, lalu menjawab, “Tidak juga. Bukan aku yang mengatur playlistnya.”

“Aku tidak terlalu suka,” kata Hyun Jin tanpa ditanya. “Lain kali, coba carikan lagu lain untukku.”

“Memangnya kau akan datang lagi?”

“Eh… entahlah.” Hyun Jin merapikan rambutnya dengan salah tingkah. Setelah menerima kembalian dari tangan Yesung, ia mengambil kotak musiknya dan segera berbalik.

Tapi belum sempat menyentuhkan tangannya pada pegangan pintu kaca, suara Yesung menghentikannya, “Kau suka lagu yang seperti apa?”

Hyun Jin menoleh. “Apa pun yang bisa untuk ber-head banging,” jawabnya tanpa berpikir.

Yesung mengernyitkan dahi, lalu tertawa pelan.

Hyun Jin mengerjap takjub. Ini pertama kalinya ia melihat Yesung tertawa. Dan rasanya menyenangkan, membuatnya tanpa sadar ikut tertawa.

“Baiklah, nanti coba kucarikan,” Kemudian Yesung menunjuk kotak putih di tangan Hyun Jin. “Pastikan kau memeriksa suara kotak musikmu di rumah. Bawa saja kembali kemari kalau ada masalah.”

Hyun Jin mengangguk, lalu keluar dari toko itu. Seperti yang sebelumnya, ia menyempatkan berhenti di depan jendela kaca dan menatap Yesung sesaat.

Tawanya lucu.

***

Yesung tahu, pada hari Sabtu itu, lewat dari jam 9 tapi tidak sampai jam 10, akan ada gadis dengan embel-embel ungu yang melangkah memasuki toko tempatnya bekerja itu. Dan hipotesanya terbukti benar.

“Annyeong haseyo, Yesung-ssi,” sapa Hyun Jin langsung begitu tiba di toko itu. Kali ini warna ungunya menjadi pemanis sebagai sablonan berbentuk kepala kucing di kaus putih yang melekat di tubuhnya

Yesung tersenyum dan mengucapkan kalimat standarnya yang selalu ia ucapkan pada setiap tamu, “Ada yang bisa kubantu?”

“Tebak apa yang kuinginkan?”

Yesung memasang tampang pura-pura berpikir keras. “Eh, aku tidak yakin. Kotak musik?”

Hyun Jin tertawa lepas. “Gotcha! Bagaimana kau bisa tahu?”

Yesung tidak bisa menahan diri untuk tertawa. Ternyata tidak hanya cantik—Yesung tidak bisa bilang gadis itu jelek—Hyun Jin bisa melucu juga. “Entahlah, keluar begitu saja dari pikiranku. Jadi, kotak musik yang waktu itu hilang lagi?”

Hyun Jin tersenyum kikuk.”Aniyo, aku… memberikan pada muridku waktu dia main ke rumah.”

Yesung tahu gadis itu sedang berbohong, yang lalu pun juga begitu. Tapi ia memutuskan untuk tidak mencampuri apa yang bukan urusannya dan menanyakan hal lain, “Kau seorang guru?”

Hyun Jin mengangguk.

“Well, tampilanmu seperti anak kuliahan.” Sebelum Hyun Jin membalas, Yesung segera menanyakan hal lain, “Apa kau sudah mencoba yang itu sebelumnya di rumah?”

“Sudah. Suaranya bagus. Tapi… seharusnya itu kado untuk orang lain, ‘kan? Jadi aku mau beli lagi.”

Yesung terdiam sesaat. Ia –sekali lagi- tahu jawaban tentang suara kotak musik itu juga bohong. Karena kalau Hyun Jin sudah mencobanya, atau setidaknya sudah membuka kotaknya… Hyun Jin akan mengatakan hal lain. Atau setidaknya, begitulah yang ia kira.

“Jadi, kau mau yang sama lagi?” tanya Yesung kemudian.

“Ne.”

Yesung membungkuk dan mengambil satu kotak musik kaca berbentuk miniatur piano dari deretan kotak musik lain lalu kembali berdiri tegak. “Aku akan mengambil kotaknya di dalam. Gidariseyo.”

Yesung berjalan ke balik pintu dan mengambil satu kotak putih diantara tumpukan kotak lainnya, lalu memasukkan kotak musik itu dengan hati-hati. Tapi sebelum menutup kotak itu, ia mengambil secarik kertas dan menuliskan sesuatu sebelum ikut menaruh lembaran itu di dalamnya.

Yesung keluar dari ruangan itu, dan matanya terpaku sesaat pada Hyun Jin yang berdiri dengan pandangan melamun. Tanpa sadar ia tersenyum. Apa yang dipikirkan gadis itu, ia tiba-tiba saja ingin tahu. Kemudian ia melangkah tanpa suara dan meletakkan kotak itu di meja kasir. “This is it.”

Hyun Jin tersentak pelan, lalu tersenyum lebar. “Hei, akhirnya kau ganti juga lagunya.”

Yesung mengerjap, kemudian mengangguk paham saat mendengar lagu I’m With You yang melantun dari audio. “Oh, itu. Aku tidak diijinkan memutar lagu yang kau bilang bisa untuk head banging. Dan aku tidak tahu kau suka Avril Lavigne atau tidak, tapi kurasa ini lebih baik dari yang kemarin.”

“Sangat,” timpal Hyun Jin seraya mengulurkan uang untuk membayar kotak musiknya. “Jauh lebih baik. Kalau begitu, berikutnya sekalian coba Kelly Clarkson.”

Yesung mengangkat bahu dan menyetorkan uang Hyun Jin di mesin kasir yang mulai mencatat penjualan. “Memangnya kau akan datang lagi?” tanyanya, dan mengulurkan uang kembalian.

“Eh… entahlah.” Hyun Jin menerima uang kembalian itu dengan senyum canggung, dan segera mengambil kotaknya sebelum berbalik dengan langkah seribu.

“Hyun Jin-ssi,” panggil Yesung, menghentikan gadis itu tepat sebelum ia menghilang menerobos pintu kaca. “Pastikan kau memeriksa suara kotak musikmu di rumah. Bawa saja kembali kemari kalau ada masalah.”

Hyun Jin mengangguk.

“Dan, silahkan datang lagi,” tambah Yesung. “Akan kucarikan lagu Kelly Clarkson.”

***

Seribu langkah di mulai dari langkah pertama.

Hyun Jin menyadari bahwa setelah kunjungan pertamanya, Music Box adalah jadwal tetap Sabtu paginya setiap minggu. Entah sudah berapa kali tungkainya melangkah ke tempat yang sama, melakukan hal yang sama, dan melihat sosok yang sama. Tempat yang awalnya asing, kini bisa ia datangi bahkan dengan mata tertutup—karena ia begitu mengenal jalannya. Tidak ada kata bosan, mengulang sapaan annyeong haseyo darinya sebagai pembuka yang selalu ditutup dengan kalimat yang sama sebelum kakinya menginjak jalan di luar;

Pastikan kau memeriksa suara kotak musikmu di rumah. Bawa saja kembali kemari kalau ada masalah.

Tidak pernah ada masalah pada kotak musiknya, atau tepatnya Hyun Jin tidak pernah tahu, karena belum sekali pun ia membuka kotak putihnya. Sekian kotak yang terus bertambah setiap minggu itu hanya ditumpuk sedemikan rupa di dasar lemari pakaiannya. Tidak, Hyun JIn tidak –atau mungkin belum- berniat membuka satu pun dari mereka, karena jika ia tidak melihatnya, ia jadi merasa punya alasan untuk kembali.

Untuk melihat laki-laki itu. Yesung.

Perasaan hangat dalam dirinya setiap melihat laki-laki itu tumbuh perlahan, seperti tumpukan kotak yang kian menggunung. Kemudian yang tidak ia sadari, akan ada saat dimana ia tidak lagi punya tempat untuk menaruh kotak berikutnya. Lemarinya sudah terlalu penuh dan sesak. Seperti Yesung tanpa sadar sudah memenuhi hatinya. Kini tidak ada lagi tempat untuk menaruh orang lain.

Tapi, apa pun yang terjadi, Hyun Jin percaya, cinta itu indah.

***

“Ei~ cinta tidak akan indah kalau hanya disimpan sendiri.”

Komentar itulah yang didapat Hyun Jin dari adik perempuannya, Jung So Yeon, saat ia menceritakan tentang Music Box dan Yesung.

Sebenarnya Hyun Jin tidak ingin menceritakan hal ini. So Yeon yang lebih dulu menemukan harta karunnya di dalam lemari pakaian, dan meminta –atau memaksa tepatnya- Hyun Jin menceritakan asal kotak-kotak yang tadinya ia kira koleksi sampah itu.

“Kenapa Eonni tidak coba katakan padanya?” usul So Yeon kemudian seraya membaringkan tubuhnya di tempat tidur Hyun Jin. “Dari pada menunggu yang tidak pasti.”

Hyun Jin mengangkat salah satu alisnya. “Bagaimana kalau dia menolak—atau lebih parah lagi, mengklaimku sebagai penguntit berjiwa psikopat? Maksudku, aku datang kesana setiap minggu. Itu sudah menunjukkan aku memberi perhatian lebih. Kenapa dia yang tidak peka?”

“Laki-laki tidak diciptakan dengan sensitivitas yang sama dengan perempuan.” So Yeon memiringkan kepalanya, menatap lampu gantung di langit-langit. “Atau mungkin dia merasakan hal yang sama, tapi tidak berani mengatakannya.”

“Kenapa tidak berani?”

“Sederhana saja. Kalau dia mengatakan dia menyukai Eonni tapi ternyata Eonni tidak, ada kemungkinan Eonni tidak akan kembali lagi kesana karena merasa tidak nyaman dengan pengakuannya, dan itu artinya kesempatannya untuk melihat Eonni pupus.”

“Tapi aku memang menyukainya. Aku bahkan memberi tahu segalanya tentangku padanya, dengan harapan dia akan melakukan hal yang sama untukku. Well, walaupun ternyata tidak. Aku lebih banyak mengoceh sendiri. Jadi kenapa aku tidak akan kembali kesana?”

So Yeon menepuk dahinya sendiri. “Aduh, dia belum tahu perasaan Eonni, ‘kan? Itulah masalahnya. Demi apa pun, aku tidak tahu Eonni yang pintar bisa bodoh juga kalau sedang jatuh cinta.”

Hyun Jin menatap kosong pada dinding kamarnya yang berwarna ungu pucat, kemudian kembali menatap adiknya. “Jadi, aku harus bagaimana?”

“Coba dengan yang mudah-mudah dulu. Berikan nomor ponsel Eonni, mungkin? Beri dia kesempatan secara implisit untuk mendekati Eonni, begitu lho.”

Hyun Jin membentuk huruf O dengan bibirnya dan mengangguk paham. Lalu fokusnya menuju ke hal lain, “Kau sepertinya lebih pintar belakangan ini. Sejak kapan kata ‘sensitivitas’ dan ‘implisit’ masuk ke otakmu?”

So Yeon menegakkan tubuhnya dan mengangkat bahu. “Kata orang, kalau kau tinggal dengan orang Prancis, lama-lama kau akan bisa bicara bahasa Prancis. Aku tinggal dengan orang rumit, tentu bahasaku jadi ikut rumit, ‘kan?”

Hyun Jin menepuk-nepuk puncak kepala So Yeon dan bangkit berdiri dari tempat tidurnya. “Teruslah belajar, kalau begitu.”

“Eonni,” panggil So Yeon lagi, menghentikan Hyun Jin tepat sebelum ia membuka pintu kamarnya.

“Wae?”

“Berusahalah dengan berani.” So Yeon meninjukan dua kepalan tangannya ke udara dengan wajah imut. “Ppaiting~”

Hyun Jin terkekeh. “Gomawo, dongsaeng-i. Saranghae.”

***

“Kotak musik, ‘kan?” tanya Yesung sebelum Hyun Jin sempat mengatakan salamnya. Kemudian ia tersenyum. “Bagaimana aku bisa tahu, ya?”

Hyun Jin yang sudah membuka mulutnya sekitar lima satu senti menutupnya kembali dan tersenyum. “Karena kau sudah mengenalku?”

“Karena aku sudah mengenalmu,” jawab Yesung pasti. “Sudah yang ketiga puluh satu, kalau kau tidak sadar.”

“Geuraeyo?” Hyun Jin tertawa kikuk. “Aku tidak menghitungnya.”

“Aku juga tidak, mesin ini yang melakukannya untukku.” Yesung menunjuk mesin kasir dengan senyum lebar, membuat Hyun Jin semakin tertawa. “Aku akan mengambil kotak musikmu sekarang lalu mengambil kotaknya di dalam. Gidariseyo.”

Setelah Hyun Jin mengangguk singkat, Yesung langsung melakukan tugasnya, mengambil kotak musik berbentuk piano yang biasanya di etalase kasir dan membawanya ke dalam. Ia tidak lagi membuang waktu untuk bertanya apa yang terjadi dengan kotak musik yang lalu, karena ia tidak ingin gadis itu memikirkan alasan untuk berbohong lagi. Biarlah seperti ini, walaupun ia diam-diam tetap berharap suatu hari gadis itu akan melihat isi setidaknya salah satu dari kotak-kotaknya.

Sementara Yesung berada di dalam, Hyun Jin menjulur-julurkan kepalanya untuk memastikan laki-laki itu belum akan keluar. Ia mengeluarkan secarik kertas yang ia lipat menjadi empat bagian dari saku celana jeansnya dengan tangan bergetar pelan, dan meletakkannya di atas meja kasir.

“Johahaeyo, Yesung-ssi,” gumam Hyun Jin. Kemudian ia meninggalkan tempat itu tanpa suara.

Tingkahnya ini memang kekanak-kanakan sekali, seperti anak remaja yang kelimpungan karena baru pertama kali jatuh cinta. Mau bagaimana lagi? Ia tidak pernah punya keberanian yang cukup untuk mengatakan segalanya langsung, dengan menatap mata laki-laki itu.

Ia hanya berharap ia tidak akan menyesalinya.

-o-

Hyun Jin tidak ada.

Yesung mengernyitkan dahinya. Ia meletakkan kotak putih di tangannya dan keluar ke jalan dengan langkah lebar. Kepalanya berputar ke kiri dan kanan. Tidak ada, Hyun Jin tidak ada dimana-mana.

Yesung kembali ke dalam dengan langkah kecewa. Matanya menatap kotak putih yang seharusnya sekarang dibawa pergi oleh Hyun Jin. Tapi nyatanya gadis itu sudah menghilang, dan kotak itu masih disini.

Untuk sesaat Yesung hanya menatap kotak itu, tanpa menyadari ada sesuatu dibawahnya. Baru saat Yesung mengangkat kotak itu, ia melihatnya. Secarik kertas asing yang tadinya tidak disana. Ia mengambil kertas itu dan membuka lipatannya. Matanya membaca barisan hangul yang rapi, jelas hasil tulisan seorang gadis—Jung Hyun Jin.

Yesung-ssi,
Kau pasti terkejut karena aku menghilang. Tenanglah, tidak usah mencariku. Tidak ada yang terjadi.
Sebenarnya aku menulis ini karena ada yang ingin kukatakan. Ini hal penting, hanya saja aku tidak bisa mengatakannya langsung.
Aku menyukaimu.
Dan aku hanya ingin tahu, apa kau juga menyukaiku?

Yesung-ssi, aku memang belum tahu apa-apa tentangmu dan begitu juga sebaliknya, jadi kalau kau tidak merasakan apa yang kurasakan, aku bisa mengerti. Bagaimana kalau kita mulai dari teman? Aku ingin mengenalmu.
Dan, kalau kau belum tahu, sebenarnya kaulah orang yang ingin kuajak bicara, orang yang ingin kuberikan kotak musik itu.

P.S : Aku sudah menuliskan nomor ponselku dibawah. So, call me, maybe? Kekeke

Jung Hyun Jin ^^

***

Yesung langsung menelepon nomor ponsel itu hari berikutnya. Detik-detik menunggu panggilannya dijawab serasa menunggu keputusan hukuman—Yesung gelisah karenanya. Dan saat nada sambung monoton itu berakhir saat seseorang diseberang sana akhirnya merespon, ia langsung bernafas lega.

“Yeoboseyo… Eh, Hyun Jin-ssi?” sapa Yesung ragu. “Nan Yesung-eyo. Dari Music Box.”

Terdengar sentakan nafas dari seberang sana, lalu jawaban dengan suara bergetar, “Yesung-ssi?”

Itu bukan suara Hyun Jin, Yesung yakin sekali. “Ini ponsel Jung Hyun Jin? Bisa aku bicara dengannya sebentar?”

Entah karena apa, seseorang diseberang sana terisak, membuat Yesung mengernyit salah tingkah. Apa ia salah bicara?

“Ini memang ponsel eonni, tapi… kau tidak bisa bicara dengannya sekarang…. Dan tidak selamanya.”

“Waeyo?”

Jawabannya diberikan setelah jeda panjang. “Hyun Jin eonni… sudah meninggal dunia.”

Telinga Yesung didera denging yang berirama dengan runtutan isakan di seberang sana. Hal berikutnya yang ia tahu adalah kini dunianya runtuh begitu saja di depan matanya.

***

One year later…

“Eonni.”

So Yeon melirik ke arah pintu masuk, mendapati kepala adiknya menyembul ragu dari luar sana. “Ji Hyun-i, masuk saja.”

Jung Ji Hyun –adik Hyun Jin yang lain- membuka pintu lebih lebar dan masuk sebelum menutup pintunya tanpa suara, lalu duduk di sisi So Yeon yang sedang berbaring telentang di tempat tidur yang dulunya milik Hyun Jin. “Kita akan ke pemakaman hari ini?”

So Yeon mengangguk sementara matanya terpaku pada lampu gantung di langit-langit. Dulu ia sering begini, tidur-tiduran, memandangi lampu gantung, dan menceritakan apa saja pada Hyun Jin. Dulu.

Sekitar setahun yang lalu, So Yeon masih ingat jelas terakhir kali ia berada di ruangan ini dengan Hyun Jin. Ia berniat meminjam sesuatu –entah apa, ia sudah lupa- dan karena tidak bisa menemukannya, ia memeriksa ke segala tempat, sampai menemukan tumpukan harta kakaknya di dalam lemari pakaian yang nyaris saja akan ia ungsikan ke tempat sampah. Beruntung ia memutuskan untuk bertanya lebih dulu—mencegah kemungkinan kakaknya itu akan mengamuk seumur hidup padanya. Dan karena penemuan tidak sengajanya-lah, ia jadi tahu rahasia kecil kakaknya.

Rahasia kecil tentang cintanya.

“Jankkaman.” So Yeon menegakkan tubuhnya dan memandang Ji Hyun. “Aku ingin membawakan sesuatu untuk Hyun Jin eonni.”

Ji Hyun memperhatikan So Yeon menghampiri lemari pakaian Hyun Jin dengan dahi berkerut samar. Kerutannya kemudian semakin jelas saat ia memandang melewati bahu So Yeon dan melihat apa yang tersimpan di dalam sana. “Tumpukan apa itu?”

“Eonni pernah cerita padaku soal seseorang yang dia sukai dari toko musik,” So Yeon mengambil satu kotak dan membawanya mendekati Ji Hyun, lalu duduk di sampingnya. “Kotak musik. Eonni selalu membeli benda yang sama selama berminggu-minggu di sana hanya untuk melihat laki-laki itu. Kau lihat sendiri tadi, tumpukannya di dalam sana.”

“Melihat siapa?”

“Aku tidak tahu nama aslinya, tapi eonni memanggilnya Yesung.”

“Geurae?” Ji Hyun menatap kotak di tangan So Yeon dan tersenyum tipis. “Aku ingin melihatnya, boleh?”

Ji Hyun menerima kotak yang diulurkan So Yeon dan membukanya. Sehelai kertas kecil terbang keluar dari dalam dan mendarat di lantai tidak jauh dari mereka. Ji Hyun refleks segera mengambil kertas itu, kemudian membaca tulisan singkatnya.

#23
Namaku Kim Jong Woon. Hari ini kau tidak memakai warna ungu. Ada yang salah?

“Ige…” Ji Hyun menunjukkan kertas itu pada So Yeon dengan pandangan bertanya. “… mwoya?”

So Yeon mengernyitkan dahinya tidak mengerti. Tidak ada yang bersuara selama beberapa detik, lalu entah bagaimana, tiba-tiba saja terlintas di pikiran So Yeon untuk memeriksa kotak-kotak lain.

#27
Namaku Kim Jong Woon. Kau mengikat rambutmu. Cantik. Kau selalu cantik kapan pun aku melihatmu.

#20
Namaku Kim Jong Woon. Aku bosan dengan lagu Inggris dan Korea, mau coba lagu Italia?

#18
Namaku Kim Jong Woon. Aku merasa kau lebih cocok tertawa dari pada murung. Apa kau sangat lelah?

So Yeon terus membuka setiap kotak dan membaca kertas yang terselip di dalamnya. Sepertinya angka-angka itu bukan asal ditulis, tapi urutan Hyun Jin membelinya. Yang dicari So Yeon adalah kotak dengan angka satu, kotak pertama. Ia menemukannya terpendam di paling bawah tumpukan di sudut lemari.

#1
Namaku Kim Jong Woon. Kau adalah tamu pertama di hari pertamaku bekerja disini. Keberatan kalau aku ingin tahu namamu? Beri tahu aku kalau kau datang lagi lain kali.

“Eonni,” panggil Ji Hyun tanpa menoleh dari kertas di tangannya. “Ada angka dua disini, dan tulisannya, ‘Namaku Kim Jong Woon. Apa kau belum melihat pesanku? Aku ingin tahu namamu’. Lalu ini,” Ji Hyun beralih pada kertas di tangannya yang lain, “Nomor tiga. ‘Namaku Kim Jong Woon. Jadi namamu Jung Hyun Jin? Nama yang bagus. Aku akan selalu mengingatnya.’”

“Kau tahu?” gumam So Yeon, mengakhiri keheningan panjang setelah Ji Hyun membacakan kertas di tangannya. “Kim Jong Woon ini, pasti dia yang dipanggil Yesung. Dia menyukai Hyun Jin eonni.”

“Dan Hyun Jin eonni tidak sadar,” lanjut Ji Hyun. “So Yeon Eonni, kita… apa harus melakukan sesuatu?”

So Yeon memandangi tiap kotak-kotak yang kini berserakan di sekitarnya, lalu mengangkat bahu. “Tidak ada yang bisa dilakukan. Lagipula, kurasa di atas sana, Hyun Jin eonni tahu segalanya lebih dari kita.”

***

Yesung tidak tahu sudah berapa lama ia berdiri menatap nisan marmer itu. Benar-benar hanya menatap, tidak bergeming barang sedikit pun. Temannya hanya kesunyian dan angin yang berhembus perlahan meniup rambut hitamnya.

“Namaku Kim Jong Woon. Hari ini peringatan setahun meninggalnya Jung Hyun Jin, gadis yang pertama kali membuat nafasku tidak beraturan, gadis yang pertama kali membuatku menunggu satu hari setiap minggu, gadis yang menyanyikan musiknya dalam diriku.

“Gadis yang kini sudah tertidur abadi dalam pelukan bumi.

“Gadis yang akan terus kucintai, sampai aku berada dalam relung yang sama dengan dirinya.”

~ おわる~

cilukba! (?)

FF kali ini terinspirasi dari music videonya Juniel, Illa, Illa. Kemiripan ide cerita dan sebagainya (?) mungkin kebetulan. Dan, ini hadiah untuk eonniku Denofa~ maaf telat jauuuuuuuuuuuh sekali eon, dan gak ada unsur ulang tahunnya sama sekali –a
ceritanya berakhir tidak enak pula -_- sedih ngga nyampe, tragis ngga nyampe, tinggi juga ga nyampe *dikatamaunaikwahana*
tapi aku sedang berusaha, eon~ *ALIBI!!!!!!*

ohya, aku masih belum bisa menulis tentang Ryeon Woo, jadi kuambil Hyun Jin aja. Oke, eon? kekeke~
wish you like it~

and, everyone, wish you all to like it ^^

N.B : aku bisa rindu Yesung juga ternyata loh *plok*

dan yang kena tag, aku bukan mau pamer (?) tapi mau minta kritik dan koreksi u,u kalau merasa keganggu, just tell me then ^^v

Always love,
Ryn

Es-I-Key-Es [drabble]

”Seks?”

”YAK !! Sejak kapan kau suka menyebut kata itu secara gamblang?!” seorang gadis dengan dress putih berpita di dadanya, melempar bantal yang dari tadi dipeluknya. Wajahnya tampak bersemburat merah. Malu.

”Yak!” Pria yang tadi menyebut kata pertama itu menangkap bantal yang terlempar ke arahnya. ”Kau sudah 23 tahun sekarang Rye dan aku 29. Bukan umur dimana kita menyebut aktifitas itu dengan istilah ‘itu’ lagi atau istilah yang biasa kau gunakan dengan teman-temanmu…apa istilahnya?” pria itu bertanya lagi pada si gadis.

”Colouring.” Gadis itu berucap pelan. Ia menyelonjorkan kakinya sembari ia membaringkan tubuh mungilnya di atas sofa empuk. Pria yang menjadi lawan bicaranya itu duduk di sisi sofa yang berlawanan, kini pahanya menjadi alas kaki gadis yang tiduran itu.

”Yah…mewarnai. Kita sudah cukup umur untuk menggunakan istilah itu Dear. Lagi pula, kau sering salah tanggap kan jika aku bilang ‘itu’?”

Ryeon Woo terdiam. Dalam hatinya berpikir, kenapa seks menjadi topik pembicaraan pagi ini?

Padahal tadi mereka membicarakan kado untuk pernikahan Siwon – Hye Bin.

”Wait, Dear…kenapa kita jadi membicarakan ‘itu’? Bukankah seharusnya kita mencari kado untuk HyeWon?” sergah Ryeon Woo akhirnya. Yesung–pria itu– meliriknya malas.

”Kita belikan saja sesuatu untuk malam pertamanya. Obat kuat, kondom–”

”Mereka sudah akan menikah Dear…apa kondom masih perlu?” balas Ryeon Woo kesal. Ia bangkit, lalu duduk lagi di sisi lain sofa.

”Kau tidak ingat apa yang mereka hadiahkan untuk kita tahun lalu?” decak Yesung kesal.

Ryeon Woo terdiam sesaat. Lalu tawanya pecah mengingat hadiah yang diberikan Siwon – Hye Bin saat pernikahan mereka. Hadiah yang membuat Yesung marah dan berteriak, ”APA INI?! APA SIWON MENGIRA PUNYAKU TAK SEBESAR INI?!”

Pria itu sempat marah ketika bulan madu. Hanya karena barang itu. Barang yang sengaja diselipkan Siwon di dasar kotak hadiahnya yang berisi selimut pinguin.

Ryeon Woo masih tertawa sangat kencang mengingat kejadian itu, membuat Yesung kesal.

Pria itu lalu berdiri, ia pergi meninggalkan Ryeon Woo yang terbungkuk-bungkuk menahan tawanya.

”Eh? Ya! Ya! Yesung-ie, kenapa kau pergi?” Gadis itu menyusul Yesung yang ternyata masuk ke kamar tidur.

-BRAK-

Dikunci dari dalam.

Ryeon Woo berusaha keras menahan tawanya ketika tahu sang suami sedang kesal.

”Yeobo-a!!”

-Tok! Tok!-

”Kau marah?? ayolahh… Bukankah barang itu sudah kita tinggalkan di Liechtenstein? Aku lebih suka milikmu Yeobo…buka pintunya!!!”

Ryeon Woo menggedor-gedor pintu kamar mereka dengan keras. Tapi Yesung tak menggubrisnya.

”Ohhh…baiklah. Bertapalah di sana Dear. Aku akan keluar saja. Aku akan melakukan ‘itu’ dengan yang lain saja jika kau masih kesal!”

Ryeon Woo menekankan kata ‘itu’ untuk memancing Yesung. Yesung sangat sensitif dengan kata ‘itu’. Bukan seks yang Ryeon Woo maksudkan, tapi hal lain. Namun Yesung selalu beranggapan ‘itu’ sama dengan seks.

Ryeon Woo melangkah meninggalkan pintu kamar tepat saat Yesung akhirnya melongok di pintu dengan marah.

”YAK !! Apa kau berniat melakukan seks dengan pria lain, hah?!” Yesung langsung menyeret tangan Ryeon Woo dan membawanya ke kamar, mendesaknya ke ranjang dan mengunci pergerakan gadis itu di bawah tubuhnya.

”YAKKK!! Yesung jelek! Apa yang kau lakukan hah?!” Ryeon Woo memberontak, tapi Yesung menahannya dengan erat.

”Dasar bodoh! Kau mau main serong ya? Ingat kau sudah jadi istriku, jadi hanya boleh melakukan ‘itu’ dengan orang lain!”

”ITU apa?” tanya Ryeon Woo dengan wajah polos.

”INI!”

Yesung mencium bibir istrinya dengan sedikit kasar, menelusupkan tangannya ke balik dress Ryeon Woo. Mencari-cari.

”YAAAKKKK !!! Lepaskan aku jelek! Kau baru melakukannya tadi pagi, semalam, kemarin…kau tidak bosan?!”

Yesung berhenti bergerak. Ia menatap Ryeon Woo tajam seraya berbisik, ”Tak akan pernah bosan jika denganmu istriku yang bodoh!”

”Dasar. Tapi kita harus mencari kado dulu untuk HyeWon!” Ryeon Woo setengah mati menolak keinginan Yesung.

”Nanti saja setelah ini. Jangan berontak, Rye! Atau aku akan benar-benar–” Yesung melemparkan evil smirknya. Ryeon Woo menjulurkan tangannya ke leher Yesung. Menariknya, mendekatkan wajahnya ke wajah suaminya.

”Atau apa? Memperkosaku hingga tak bisa berjalan? Lakukan saja…karena aku bisa membuatmu tak bisa bangun sampai dua hari. Hahaha!”

Yesung terdiam lalu…

‘PLETAK’

Satu sentilan mendarat di dahi Ryeon Woo.

”YAKKK YESUNG JELEK! SAKITTTT TAHU!”

———–adegan selanjutnya sensor!———-

wakakakakaka !! UPS, THE END!

‘Black and White Couple’ [DRABBLE]

”Hitam adalah sebuah akhir, dan putih adalah awal yg baru untuk memulai. Dan kau adalah hitam sekaligus putihku.” — RyeSung New Quotes

==OO==

Gadis itu serba hitam sehingga kulit putih pualamnya tampak bersinar di bawah cahaya rembulan. Lelaki di pangkuannya tengadah, mata hitamnya menyiratkan senyum tiada akhir. Dibalut tuksedo putih, lelaki itu memancarkan aura kebahagiaannya.

Di bawah cahaya rembulan yang benderang, di sebuah kapel kecil di taman gereja, dikelilingi desau angin malam yang justru menghantarkan kehangatan cahaya api obor yang juga mengitari mereka.

”Kenapa gaun hitam, Dear? Bukankah biasanya pengantin akan mengenakan gaun putih?” tanya si lelaki. Ia masih santai membaringkan kepala besarnya di kedua paha gadis itu.

”Karena aku ingin menjadi akhirmu Dear. Upacara pemakaman dan waktu wisuda kita mengenakan pakaian hitam, tapi bukan tanda berduka. Tapi adalah sebuah akhir dari perjalanan waktu. Dan aku ingin, akulah pelabuhan terakhirmu, Dear.”

Gadis itu tersenyum, sangat bahagia. Ia menunduk, mengecup dua kelopak mata lelakinya dengan sayang. Ia hanya mengenakan gaun hitam terbuka tanpa lengan, yang dipakainya sejak siang. Sejak pesta pernikahan mereka.

”Dear, kenakanlah jasku. Nanti kau masuk angin,” ujar si pria sambil bangkit.

”Tidak…tidak, Dear. Kita tunggu beberapa jam lagi. Lagipula…kenapa tidak kau saja yang menggantikan jasmu?” pinta gadis itu sambil mengalungkan dua lengan mungilnya di leher lelakinya.

Seperti tersentak, lelaki itu menyeringai bersalah. Ia lalu medekap gadisnya. Memeluknya dengan erat.

”Begini lebih baik?” tanyanya pelan sambil mengecup pipi kiri gadis itu. Mereka berpelukan dengan erat, mencoba mempertemukan masing-masing bagia dalam tubuh mereka. Membiarkan jantung mereka saling melemparkan detaknya.

”Dear…sekarang yang putih. Kenapa kau memilihkanku warna putih?” tanya pria itu lagi.

Si gadis melonggarkan pelukannya. Ia memasukkan dua tangannya ke dalam jas lelakinya, mengaitkan tangannya di belakang punggung pria itu.

”Karena kau adalah awal kehidupan baruku, Dear. Kau awal hidupku yang penuh warna. Dan semua warna-warna itu bersatu padu, memberikan cerita bagiku. Bagi kita. Dimana satu warna terakhir yang benar-benar menyatukan kita.”

”Hitam?”

Gadis itu mengangguk. Ia menengadah. Menatap dua bola mata kelam laki-laki yang menantangnya.

”Aku suka argumenmu, Sayang. Tapi kau juga harus mendengar argumenku,” ujar laki-laki itu sambil menggigit kecil sudut bibir gadisnya.

”Katakan.”

Laki-laki itu menarik napasnya perlahan, mencium aroma musk mango yang menguar dari leher si gadis.

”Hitam dan putih itu tak terpisah meski mereka tak bersatu. Bagai lambang Yin dan Yang, mereka saling melengkapi. Hitam selalu memancarkan panas yang hanya mampu diredam oleh putih. Dan putih membantu hitam selalu terlihat dimana pun ia berada. Meski terpisah, energi hitam dan putih selalu ada dalam kurun waktu yang sama. Jika hitam menghancurkan, putih selalu memperbaiki. Berdua, mereka menciptakan keselarasan dan keseimbangan.”

Gadis itu mengerjapkan matanya.
”Kau mengutip, hmm?”

Laki-laki itu tertawa, membuat gadisnya cemberut.

”Kim Ryeon Woo bodoh…hanya dengan menatap matamu aku bisa mengeluarkan argumen seperti itu, kekuatan hitam memang dahsyat,” kelakarnya yang membuat gadis itu tersenyum.

”Yak Kim Jong Woon jelek! Berhenti mengataiku bodoh! Aku tidak bodoh…” rajuk gadis itu.

Laki-laki itu memeluk lagi tubuh gadisnya. Mengecup bibir gadis itu, menciumnya cukup dalam hingga membuat gadis itu kesulitan bernapas.

”Dear…kau memang tidak bodoh…tapi setelah bertemu denganku…kau menjadi gadisku yang paling bodoh. Tapi Ryeon-ie…jangan khawatir, kaulah yang terakhir kucinta meski kau bodoh. Hahaha!”

Gadis itu melepas pelukannya. Menatap Jong Woon dengan kesal.
”Kau harus kuhukum!”

”Mwo?! Yak! Harusnya kau menjadi istri yang baik di malam pengantin kita…”

”Shireo!”

”Geurom, apa hukumannya?” laki-laki itu akhirnya mengalah. Gadis itu tersenyum, ia mendekatkan bibirnya ke telinga si pria, mengucapkan beberapa patah kata dengan seringai.

”Aha! Bagaimana kalau hukumannya sekarang saja?” tukas pria itu sambil tersenyum menggoda.

”Di sini? Seakarang? No Way!”

———–END———

FF “We Got Married, Zhou-Hyun Couple”

Title : “Vey, Wo Ai Ni !!”
Nama Author : Denofa Elixéa
Nama FB : Veynicca Elixie Braunsweigh
Nama Twitter : @170_Fa
Nama Blog : http://www.elixveyniccaworld.wordpress.com
Genre : Romance
Rating : G
Main Cast :
– Zhou Mi
– Jung Hyun Jin a.k.a Vey
Other Cast :
– Shin Hye Bin
– Xiu Hui
– Lee-Ri Couple
– HEE Couple
Words : 7.655
Length : Oneshoot
Summary :

Zhou Mi, salah satu lead vocal Super Junior M, mendapatkan surat dari pihak MBC, salah satu stasiun televisi Korea yang mengadakan acara reality show We Got Married. Dalam surat itu, mereka meminta kepada Zhou Mi agar mau ikut sebagai peserta ‘menikah’ dalam acara itu. Namja keturunan China yang lahir di Wuhan itu sebenarnya enggan, namun dia memutuskan ikut juga.

Jung Hyun Jin, yang sering dipanggil Vey, adalah seorang pemilik restoran terkenal di China. Hampir di seluruh negeri itu ada cabang restorannya. Bagi wanita ‘biasa’ seperti dia, mendapatkan sebuah email yang mengajaknya untuk ambil andil dalam acara reality show terkenal di Korea, We Got Married, tentu saja hal yang luar biasa. Ia lahir di Wuhan, dan merupakan sahabat Zhou Mi sewaktu kecil, hingga ia dan keluarganya pindah ke Beijing.

Entah suatu kebetulan atau kesengajaan atau memang takdir, kedua orang itu ternyata dipasangkan dalam acara We Got Married. Bahkan tanpa Zhou Mi mengingatnya, ternyata ada perasaan terpendam dalam hati Vey. Bagi Vey, Zhou Mi adalah cinta pertamanya. Namun yang Vey tak ketahui, ternyata Zhou Mi memiliki rasa yang sama, hanya saja namja jangkung itu tak mengingat apa-apa tentang masa kecilnya.

Mulai dari perkenalan, hingga kencan dan akhirnya tinggal bersama, Zhou Mi mulai sedikit demi sedikit mengingat siapa ‘istrinya’, meskipun Vey berusaha menutupinya.

Lalu bagaimanakah kisah manis mereka selama 50 hari ?

Baca kisah selengkapnya yaaa ^^

======================= HAPPY READING =====================

Beijing, 4 April 2012

Seorang yeoja berambut panjang kecoklatan sedang duduk di balik mejanya, menatap lurus pada layar laptopnya. Matanya terbelalak menatap email yang datang dari MBC (Munhwa Broadcasting Corporation) yang ada di Korea Selatan yang biasa mengadakan acara reality show We Got Married. Sebuah email yang memintanya untuk ambil andil dalam reality show tersebut. Jung Hyun Jin, atau yang lebih dikenal dengan nama Veynicca Jung itu tampak berpikir di balik wajah tenangnya. Yeoja itu adalah blasteran Korea – China, seorang yeoja biasa yang mampu membangun karier-nya sedemikian rupa hingga ia menjadi seorang pebisnis muda yang sukses. Siapa warga China yang tidak pernah makan di Vey Yang Restaurant?

Vey Yang Restaurant adalah sebuah rumah makan tradisional China yang menyebar di seluruh pelosok negeri itu hingga ke pedesaan. Menu-menu yang dihadirkan oleh restoran itu mampu membangkitkan minat para warga untuk mencicipinya dan mengenang kembali segala hal tentang China tempo dulu. Tentang harga, semua warga China pasti setuju mengatakan satu kata yang sama. TERJANGKAU!

Ketenaran Vey Yang Restaurant tentu saja tak jauh-jauh dari usaha keras sang pemilik, Jung Hyun Jin atau Veynicca. Banyak warga yang kagum karena di usia yang begitu belia, seorang yeoja mampu melakukan hal yang begitu menakjubkan.

Tapi bagi Vey—panggilan akrabnya—yang terpenting adalah kepuasan pelanggannya. Nama yeoja itu terus mencuat hingga sampai ke telinga sang produser, yang akhirnya memutuskan memilih yeoja ini sebagai salah satu calon peserta We Got Married.

=========================================================

Dorm Super Junior, Gwangjin, Seoul
5 April 2012

Seorang namja kurus jangkung baru saja menekan tombol merah di layah handphone-nya. Sambil menghembuskan nafas keras, namja itu masuk ke kamarnya. Dorm tampak sepi hari ini karena beberapa member memiliki kegiatannya masing-masing diluar jam ‘kerja’ wajib mereka.

Bosan sendiri, akhirnya namja berwajah oriental itu masuk ke kamarnya lalu mengambil I-pad dalam tasnya. Membuka sebuah situs dan mengetik satu kata kunci. We Got Married.

Dan muncullah beberapa tayangan dalam UCC reality show tersebut. Beberapa diantaranya adalah wajah-wajah yang amat dikenalnya.

“Terima atau tidak ya?” gumam namja itu sambil menggaruk dagunya yang tak berjenggot.

Ya, namja itu baru saja mendapat tawaran sebagai peserta dalam acara reality show We Got Married. Namja itu, Zhou Mi. Salah satu personil Super Junior M. Namja tampan dari China yang sukses meniti karier-nya bersama sub grup Super Junior M di Korea Selatan. Dan produser tadi yang meneleponnya mengatakan bahwa ‘istri’nya nanti adalah seorang Chinese berdarah campuran China-Korea. Zhou Mi bingung, haruskah ia menerimanya?

=======================================================

8 April 2012, Dorm Super junior

Zhou Mi berjalan pelan menuju pintu dorm Super Junior. Matanya mulai menelisik tiap kata dalam surat peraturan dan segala hal yang perlu dilakukannya saat syuting WGM nanti. Ya, Zhou Mi menerima tawaran itu. Dia sudah melihat profil calon ‘istrinya’ melalui internet karena sang produser tetap merahasiakannya.

“Aku pasti bisa. Ini kan hanya syuting,” namja itu bergumam lagi sambil menyelipkan kertas itu ke dalam saku jaketnya tepat ketika pintu dorm terbuka dan ia langsung masuk.

-xXx-

Vey baru saja sampai di Incheon Airport. Ia datang ke Seoul di dampingi asisten pribadinya, Xiu Hui, seorang yeoja berusia 28 tahun dan seorang sahabatnya yang juga keturunan Korea, Shin Hye Bin.

Selama dua bulan, rencananya, Vey akan tinggal di Seoul dan menempati sebuah apartemen milik pribadinya yang selalu digunakan jika dia mengunjungi tanah kelahiran Appa-nya ini. Sebuah apartemen di Gwangjin, Star City, tower A lantai 8.

“Hyun Jin-ah… kau harus menemui produser itu dulu. Baru kita ke apartemen, eotte?” tanya Hye Bin sambil membuka-buka agenda jadwal Vey. Hye Bin adalah satu-satunya orang yang tetap memanggil Vey dengan nama aslinya. Sudah kebiasaan dari dulu, kilah Hye Bin jika ada yang menanyakan. Vey pun tak keberatan, khusus untuk sahabatnya saja.

“Ne, aku akan ke Yeouido terlebih dulu. Xiu Hui eonnie, kau bisa langsung ke apartemen untuk mengecek. Aku dan Hye Bin akan menyusul,” ujar Vey sambil memajukan kepalanya ke depan agar bisa berbicara lebih dekat dengan asistennya itu.

“Baiklah Vey. Kita akan bertemu di apartemen,” ujar sang asisten pelan.

========================================================

“Jadi, calon ‘suami’mu itu Zhou Mi? Wahhh…apakah ini sebuah kebetulan atau takdir ya?” goda Hye Bin sambil melirik sahabatnya dari cermin hias di kamar berukuran 5×5 di dalam apartemen Vey. Sementara Vey masih memajang wajah shock. Sejak mengetahui bahwa ia akan dipasangkan dengan Zhou Mi, yeoja itu mendadak diam seribu bahasa. Bagaimana tidak? Namja itu adalah cinta pertamanya.

Siapa yang tidak mengenal Zhou Mi di masa tenar Super Junior seperti saat ini? Vey mencibir. Dia bahkan sudah mengenal Zhou Mi di hari pertamanya ada di dunia ini. Vey merebahkan badannya begitu saja ke ranjang. Ia tak menghiraukan tawa mengejek Hye Bin. Ingatannya kembali berputar ke masa kanak-kanaknya. Masa-masa ia tinggal di Wuhan bersama Zhou Mi atau yang biasa dipanggilnya dengan nama Mi-tang, nama fansclub-nya saat ini. Honey.

Tapi Vey berani bertaruh, Zhou Mi tak akan mengingat apa-apa tentang Vey. Yeoja gendut dan berambut kriwil yang sangat menyukai es krim. Ia dan Zhou Mi sering bermain bersama di tepi sungai Yangtze. Namun mereka hanya bersama hingga usia 7 tahun dan setelah itu, Vey dan keluarga Jung pindah ke Beijing dan tak pernah ada kontak sedikitpun dengan Zhou Mi hingga akhirnya yeoja itu mengetahui bahwa Zhou Mi telah menjadi salah satu member Super Junior sub M.

“Dimana pertemuan pertama kalian, Hyun Jin-ah?” tanya Hye Bin tiba-tiba saja sudah berada di sebelah Vey.

“Kami dijadwalkan bertemu di Lotte World, di sebuah restoran China besok pukul 5 sore. Hye Bin-ah…eottohke? Aku benar-benar gugup harus bertemu dengannya lagi…” ujar Vey sambil memegang kedua pipinya. Hye Bin tersenyum manis.

“Anggap saja kau tak mengenalnya, chagi. Dan jangan lihat dia sebagai Mi-tang~mu yang dulu. Arra?” ujar Hye Bin tegas. Vey tersenyum. Mungkin memang harus begitu.

============================================================

~Perkenalan dan Kencan Pertama~
Lotte World, 10 April 2012

[ Camera mode : ON]

Waktu menunjukkan pukul 4.30 sore ketika Vey turun dari mobilnya menuju salah satu restaurant China yang memang menjadi lokasi pertemuannya dengan Zhou Mi. Dengan balutan gaun berwarna hitam selutut yang dipadukan dengan kardigan berwarna merah serta sepatu boots berwarna hitam, membuat penampilan Vey tampak cantik sore itu. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai dengan hiasan jepit bunga di bagian kiri. Make-up yang digunakan yeoja itu natural.

Vey memasuki restaurant dengan hati berdebar. Restauran ini memang sepi karena sudah di sewa selama sejam untuk acara ini. Mata yeoja itu berkeliaran mencari sosok Zhou Mi. Karena tak ada seorang pun, maka Vey langsung duduk di salah satu meja yang agak tersembunyi.

Seorang pegawai restoran memberikannya segelas orange juice sebagai welcome drink. Vey menerimanya dengan senang hati. Tak lama, ekor matanya menangkap sosok tampan dengan setelan jas rapi berwarna abu-abu. Vey hampir tersedak dibuatnya. Vey seketika berdiri membuat Zhou Mi cepat mengetahui keberadaannya.

“Ni Hao, Jung Hyun Jin-ssi. Maaf aku terlambat,” sapa namja itu ramah sambil tersenyum. Vey mengulas senyumnya, ia tak mampu menyembunyikan betapa terpesonanya ia pada namja tampan di depannya itu.

“Ah, gwenchanna Zhou Mi-ssi. Kau belum terlambat kok,” ujar Vey mengimbangi kikuknya. Zhou Mi menghembuskan nafas lega, meski ia tak mampu menekan kegugupannya dalam pertemuan pertama ini dengan calon ‘istrinya’.

“Ahh, duduklah…duduklah,” ujar Zhou Mi sambil mempersilakan Vey kembali ke tempatnya. Tercipta suasana canggung di antara mereka. masing-masing mulai menyusun kata dalam pikirannya untuk memcairkan suasana.

“Hyun Jin-ssi, neo neomu yeppeuda. Aku sampai terpesona,” ujar Zhou Mi sebelum Vey berhasil membuka mulutnya. Wajah Vey bersemu merah, “Kau juga. Kau jauh lebih mempesona saat bertemu langsung seperti ini.”

“Bagaimana kalau kita langsung saja ke menuju Suwon Waseong? Malam ini cuaca akan cerah,” ajak Zhou Mi sambil bangkit. Vey ikut berdiri, mengikuti ajakan Zhou Mi. mereka berjalan beriringan dengan langkah malu-malu keluar dari restoran.

-xXx-

“Wuuaahh…ini mobil yang besar,” ujar Vey sambil masuk ke dalam sebuah limousine putih. Zhou Mi tersenyum dan duduk disebelah Vey.

“Untukmu,” ujar namja itu sambil memberikan sebuket bunga mawar putih untuk Vey. Yeoja itu sontak kaget dan terpana. Ia benar-benar menyukai White Rose.

“Xie Xie…kau tahu aku sangat menyukai bunga ini,” ujar Vey sambil menciumi wangi bunga yang kini memenuhi ruang dalam mobil. Zhou Mi tanpa sadar menatap pada yeoja itu. Entah kenapa hatinya jadi semakin berdebar melihat senyumannya. Ada sesuatu hal yang mengingatkannya pada kenangan masa lalu.

“Aku lega kau menyukainya. Kau mau es krim?” tawar Zhou Mi lagi.

“Mau!!” Vey berteriak tanpa sadar dengan mata berbinar. Zhou Mi terkejut, “Tampaknya kau sangat menyukai eskrim ya?”

Vey tersipu dan ia mengangguk. Zhou Mi mengeluarkan sekotak es krim dan dua buah sendok dari dalam freezer kecil yang tersedia disana. Sebuah es krim dengan rasa coklat dan peach. Dia memberikan satu sendok pada Vey, dan satunya lagi untuk dirinya. Tangannya mulai menyendok es krim dan menyodorkannya pada Vey.

“Suapan pertama untuk calon istriku. Ayo buka mulutmu, aaaa…” ujar Zhou Mi sambil tersenyum. Vey secara spontan membuka mulutnya.

“Mmmm…ini enak sekali, Zhou Mi-ssi. Ahh~ sekarang giliranku,” Vey menyendok eskrim dan menyuapkannya pada Zhou Mi. Suasana canggung sudah mulai mencair seperti eskrim yang mereka santap berdua. Sesekali mereka melemparkan canda dan tawa pun memecah. Hingga mereka sampai di Suwon Waseong, sebuah benteng yang terletak di pusat kota. Mereka turun sambil merapatkan jaketnya karena udara malam sudah mulai turun menyelimuti Seoul.

-xXx-

Sepasang calon suami istri itu berjalan beriringan dengan langkah yang sudah mulai mantap. Sesekali mereka saling melirik.

“Aku tak menyangka mendapatkan pasangan seorang wanita karier yang sukses. Kau tahu, aku sering singgah ke Vey Yang yang ada di Beijing untuk menikmati masakan-masakan tradisional. Terakhir aku kesana bersama Hangeng dan Victoria. Ahhh~ kau belum membuka cabang di Wuhan. Bukankah kau pernah tinggal di Wuhan?” tanya Zhou Mi sambil menggiring Vey untuk duduk di balkon benteng untuk menikmati pemandangan malam kota Seoul.

“Kau terlalu memuji, Zhou Mi-ssi. Aku masih sedang dalam tahap belajar berbisnis untuk membuktikan pada Appa kalau aku bisa dihandalkan,” ujar Vey sambil tersenyum. “Aku ingin sekali membuka cabang di Wuhan, tapi yaahhh…mungkin tahun depan. Aku ingin melihat respons warga disana dulu,” ujar Vey lagi.

“Hyun Jin-ssi…”

“Panggil saja aku Vey. Semua orang memanggilku begitu dari kecil,” ujar Vey sambil memamerkan deretan gigi putihnya. Zhou Mi tertawa, “Ahh~ shirreo-yo. Aku akan tetap memanggilmu Hyun Jin. Hyunnie…panggilan sayang,” ujar Zhou Mi yang seketika membuat wajah Vey semerah kepiting rebus. Hati yeoja itu mulai berdegup-degup kencang lagi, sementara Zhou Mi juga berusaha keras menyembunyikan rasa gugupnya. Tangan Zhou Mi bergerak mengambil tangan kanan Vey, membuat yeoja itu tersentak.

Zhou Mi menggenggam erat tangan yeoja itu. Matanya menyorotkan sinar cinta yang kuat. Lalu tanpa aba-aba, namja itu mengecup pelan punggung tangan Vey.

“Menikahlah denganku, Hyunnie,” ujar Zhou Mi pelan sontak membuat mata yeoja itu membulat. Vey tersenyum, lalu mengangguk.

[Camera mode : OFF]
===========================================================

Pulau Jeju, 12 April 2012

[Camera mode : OFF]

Vey mengeratkan topi putihnya saat ia turun dari kapal laut yang membawanya ke Pulau Jeju bersama Zhou Mi dan kru WGM lainnya. Ini yang pertama kalinya yeoja itu mengunjungi pulau yang terletak di selat Korea itu.

“Apakah ini pertama kalinya kau ke Jeju?” tanya Zhou Mi tiba-tiba membuat Vey terkaget, namun dengan cepat ia bisa menguasai keadaan.

“Ne, Zhou Mi-ssi. Dari dulu aku ingin mengunjungi pulau ini tapi selalu tak sempat,” balas Vey sambil tersenyum. Suasana terasa lebih santai karena saat ini mereka tidak sedang syuting. “Resiko jadi orang sibuk memang begitu,” seloroh Zhou Mi sambil tertawa. Vey meliriknya. Sudah 20 tahun tak bertemu, namja ini jadi semakin tampan, pikirnya.

“Nona Jung ! Zhou Mi-ssi! Kajja!” teriak seorang kru WGM. Mereka akan segera menuju tempat menginap mereka selama 50 hari untuk syuting di beberapa tempat di pulau Jeju.Tujuan pertama mereka adalah sebuah desa di pinggiran kota Seugwipo, Kabupaten Jeju Selatan.

-xXx-

~Kencan Kedua ~
14 April 2012, Seugwipo – Jeju Selatan

[Camera mode : ON]

Vey adalah seorang yeoja yang sangat mencintai alam. Zhou Mi sudah mengetahui itu dan mengajak Vey menuju sebuah tempat yang indah dan merupakan salah satu aset wisata di Seugwipo.

“Kita akan kemana?” tanya Vey sambil menyampirkan tas kecilnya ke bahu saat Zhou Mi menarik tangannya untuk kencan di pagi ini. Zhou Mi memamerkan senyum lebarnya sembari mengenakan kacamata hitam favoritnya.

“Kau akan suka. Kajja!” ujar Zhou Mi sambil menarik tangan Vey mengajaknya mengambil sepeda gayung dan mereka menuju ke arah barat dari pusat kota Seugwipo.

Suara air yang mengusik indera pendengaran Vey langsung membangkitkan rasa penasaran yeoja itu ke tingkat akut. Dengan cepat kakinya mengayuh dan menyalip Zhou Mi yang pelan-pelan menunggunya.

“HEEIII !! TUNGGU AKUU!!!” teriak Zhou Mi begitu Vey melaju cepat di sisi kanannya. Terdengar tawa Vey yang memecah sunyi pagi. Zhou Mi tersenyum tipis lalu mengayuh sepedanya dengan cepat untuk mengimbangi Vey.

Dan sampailah mereka di sebuah tempat yang sangat mempesona. Mulut Vey bahkan menganga begitu matanya terbuai oleh hamparan bening air dan suara air yang menerobos turun dari tingginya tebing di atasnya.

“Ini adalah air terjun Cheonjiyeon. Kau menyukainya Hyunnie?” tanya Zhou mi sambil memarkir sepedanya di sebelah sepeda Vey, dan berdiri di belakang Vey yang masih takjub.

“Ini indah sekali…Zhou Mi-ya…kau benar-benar membawaku ke surga…” ujar Vey sambil tersenyum penuh keharuan. Zhou Mi senang bisa membuat bahagia yeoja di depannya ini. Tangannya merogoh ke saku jaketnya. Lalu dia menyodorkan sebuah kotak kecil.

“Hyunnie…ini untukmu,” ujar Zhou Mi sambil membuka kotak kecil hitam itu dan…

“Batu Bulan?” gumam Vey tanpa sadar saat matanya menatap sebuah cincin emas putih dengan hiasan berwarna biru keunguan, Batu Bulan yang sangat indah. Air mata menetes sebulir dari pelupuk mata Vey. Bukan cincin itu yang membuat yeoja itu terharu. Tapi ingatan akan sebuah kenangan indah yang tak pernah terlupakan di masa kecilnya.

Zhou Mi terhenyak saat melihat yeoja di hadapannya menangis. Hatinya mulai merasakan ada sesuatu yang ‘lain’ saat melihat air matanya. Ada sesuatu yang mulai perlahan beringsut keluar dari memorinya. Kenangan di sebuah masa, entah kapan.

“Kau tidak menyukainya?” tanya Zhou Mi pelan. Dengan jelas ia bisa melihat pancar rasa haru dari kedua mata almond yeoja itu. Tiba-tiba saja Vey sudah langsung memeluk Zhou Mi. namja itu kaget dan sekaligus tersenyum balas memeluk Vey. Mencium puncak kepalanya sekilas dan lalu memasangkan cincin itu ke jari manis Vey dan pas sekali ukurannya.

“Xie Xie Mi-tang…” seloroh Vey sambil tersenyum manis. Zhou Mi terperanjat. Entah kenapa ada rasa yang berbeda saat mendengar panggilan itu dari mulut Vey. Panggilan itu seperti berjiwa dan seolah memanggil segala rasa dalam hatinya.

“Wo ai ni Hyunnie,” ujar Zhou Mi sambil mengecup pelan pipi Vey.

[Camera mode : OFF]

==========================================================

15 April 2012

Hari ini Zhou Mi dan Vey akan menghadiri pesta ‘pernikahan’ dari leader Super Junior, Park Jung Soo dan pasangan WGM-nya Shin Seung Ri yang diadakan di sebuah tempat di Jeju kota.

Pagi-pagi sekali Vey bangun untuk mandi saat Lee Gae-un eonnie, penata rias dan make up Vey sedang sibuk berkutat di dapur membantu ahjumma Kang membuat bubur abalon.

“Nona Jung…”

“Panggil Hyun Jin atau Vey saja eonnie, jangan terlalu formal. Hhhhhmmm…wangi sekali aromanya,” ujar Vey mendekati Gae-un dan ahjumma Kang yang sedang menuangkan bubur itu ke dalam beberapa mangkuk.

“Kita akan berangkat pukul sembilan Hyun Jin. Mandilah terlebih dahulu karena Zhou Mi sudah bersiap-siap dari tadi,” ujar yeoja itu sambil tersenyum.

“MWO? Dia sudah bangun?!” teriak Vey kaget dan Gae-un mengangguk. Yeoja itu buru-buru melesat ke kamar mandi.

-xXx-

Zhou Mi sudah siap di mobil yang sudah dipanaskan selama setengah jam sebelumnya. Namja itu memakai setelan jas formal dengan kemeja berwarna biru muda di dalamnya. Tak lupa kacamata hitam bertengger di hidungnya, menambah kesan maskulin seorang ‘Gentleman Mimi’. Vey turun dari tangga hati-hati karena ia tak ingin terjungkal karena sandal high heelsnya tersangkut di celah-celah tangga kayu. Yeoja itu mengenakan gaun merah sepanjang lutut dan juga hiasan rambut bulu-bunga berwarna senada dengan gaunnya. Dia terlihat sangat mencolok.

“Hei, apakah kau berusaha menjadi Lady Gaga?” gurau Zhou Mi sambil menyipitkan matanya karena silau oleh warna gaun Vey yang terang. Yeoja itu merenggut, sudah hendak berbalik karena gurauan Zhou Mi. tapi kemudian dia berbalik dan tersenyum menghampiri Zhou Mi dengan gayanya Lady Gaga.

“Ahhh…kau benar sekali, Gentleman Mimi. Bukankah kau mengidolakan Lady Gaga?” balas Vey dengan tatapan evil-nya. Zhou Mi langsung tertawa terbahak-bahak dengan tawanya yang khas.

“Kau benar-benar seseorang yang humoris, Hyunnie…aku menyukainya,” ujar Zhou Mi setelah menyelesaikan tawanya. Vey hanya mencibir dan buru-buru masuk ke mobil sebelum para kru memergoki aksi mereka.

Vey melirik Zhou Mi yang sudah masuk ke mobil dan siap mengemudi. Sebuah bungkusan besar berwarna putih dengan hiasan hati berwarna merah sudah siap di jok belakang. Hadiah untuk pasangan Park Jung Soo – Shin Seung Ri.

-xXx-

Vey memengang erat lengan kiri Zhou Mi. Berdua mereka melangkah ke tempat resepsi yang dihadiri oleh wajah-wajah yang asing baginya. Tapi tidak dengan Zhou Mi, namja itu dengan mudahnya menebar senyum kepada orang-orang yang dikenalnya.

Seorang yeoja cantik berambut hitam yang digelung dan mengenakan tiara, bergaun putih panjang duduk di sebuah meja bundar bersama sang leader Super Junior yang tampak sangat berkharisma itu.

“Kajja,” Zhou Mi menggiring yeojanya untuk menghampiri hyung dan pengantinnya itu.

============================================================

Seugwipo, 16 April 2012

[Camera mode : OFF]

Hujan mengguyur Seugwipo selama sehari sehingga syuting WGM hari ini di tunda. Vey mengurung diri di kamarnya di lantai dua. Mereka semua menginap di sebuah penginapan tradisional di pinggiran kota Seugwipo. Ia sibuk mengerjakan sesuatu untuk kencannya besok.

Mengingat Zhou Mi adalah seseorang yang sangat menyukai fashion, Vey berniat memberikannya sebuah syal rajutannya sendiri. Sebuah syal berwarna putih dengan garis hitam di kedua ujungnya. Dua warna favorit Zhou Mi. Syal itu sudah jadi tiga perempatnya karena Vey sudah mengerjakan sejak semalaman.

-Tok! Tok! Tok!-

Vey menoleh ke arah pintu, “Siapa?”

“Ini aku…Zhou Mi,” teriak sebuah suara dari luar. Vey buru-buru memasukkan ‘prakarya’nya serampangan ke bawah tempat tidur, mengambil sweeter dan langsung menuju pintu. Ia melongokkan kepalanya sedikit dan mendapati Zhou Mi sedang sibuk mengambil gambarnya sendiri. Namja narsis…

“Zhou Mi-ssi…” panggil Vey sambil melangkah keluar dari kamarnya. Zhou Mi tampak kaget lalu mengantongi kembali ponselnya. Mereka berdua berdiri di balkon panjang. Hujan masih turun dengan deras.

Zhou Mi tampak sangat cute hari itu dengan kaus tanpa lengan berwarna putih dan celana hitam bermuda. Dan Vey baru menyadari kalau telinga namja itu ditindik. Dan ada anting segitiga mengunci lubang tindiknya. Tanpa sadar, tangan yeoja itu bergerak ke telinga kirinya, mengurai rambut untuk menutupinya.

“Kenapa kau melamun. Ga-eun Noona memanggil kita untuk makan siang. Keundae…apa yang kau lakukan di dalam?” tanya namja itu sambil tersenyum.

“Bukan apa-apa. Kajja!” Vey langsung menarik tangan Zhou Mi dan mengajaknya turun ke ruang makan. Saat berbalik itulah rambut Vey menyibak ke pundak, dan Zhou Mi tak sengaja melihatnya. Namja itu baru sadar kalau Vey memakai sebuah anting yang sama dengan miliknya dan hanya sebelah! Ingatannya kembali pada masa lalu.

“Vey!” Zhou Mi menghentikan langkahnya tiba-tiba membuat Vey kaget dan nyari terjerembab di tangga jika saja Zhou Mi tak memeganginya.

“Ahh??” tanya Vey sambil berbalik dan mendapati tangan kanan Zhou Mi sudah mencapai telinganya. Mata namja itu membulat begitu yakin bahwa anting-anting yeoja itu adalah pasangan miliknya.

“Darimana kau mendapatkannya?” tanya Zhou Mi heran. Matanya menatap tepat dimanik mata Vey. Yeoja itu tersadar. Ia tak mungkin mengatakan kalau anting sebelah itu adalah pemberian dari cinta pertamanya, Mi-tang, di Wuhan saat ia akan pindah ke Beijing.

“Ahh, ini? Aku membelinya ketika berkunjung ke Wudaokou sebulan yang lalu. Memangnya ada apa?” ujar Vey dengan suara normal agar Zhou Mi tak curiga. Alis namja itu berkerut, tanda tak percaya. Namun Vey tersenyum meyakinkan, “Sebelahnya tak kupakai karena tungkainya patah. Lagipula, aku senang memakainya walau sebelah.”

Zhou Mi menghembuskan nafas pelan, “Ahhh~ entah itu sebuah kebetulan atau tidak, tapi aku juga memiliki anting yang sama dan juga sebelah. Lihatlah…”

Zhou Mi memperlihatkan telinga kanannya yang berisi anting. Lalu dia mengeluarkan handphone-nya. Satu tangannya segera mengait di bahu Vey, menariknya hingga telinga mereka yang sama-sama berisi anting saling berdekatan.

“Tersenyumlah,” ujar Zhou Mi sambil memamerkan giginya menghadap kamera dan memaksa Vey melakukan hal yang sama.

-KLIK-

Satu moment terabadikan lewat kamera handphone Zhou Mi. Vey melonjak girang dalam hatinya. Bahagia. Sementara Zhou Mi merasakan gelisah.

============================================================

17 April 2010, Seugwipo – Jeju Selatan
~Kencan Ketiga~

[Camera mode: ON]

Berbeda dengan hari kemarin, hari ini matahari dan udara sangat bersahabat. Menikmati hari terakhir di Jeju karena ‘pernikahan’ mereka akan di lakukan di Seoul. Zhou Mi dan Vey memutuskan untuk pergi ke Taman Wisata Air Terjun Jeongbang yang terletak 1,5 Km di sebelah tenggara kota Seugwipo. Vey yang memilih tempat itu karena ia sangat penasaran dengan air terjun yang langsung bermuara ke laut.

Zhou Mi yang juga tak pernah pergi kesana spontan menyetujui ajakan Vey. Ia sudah menyiapkan kamera digitalnya agar bisa mengambil gambar sebagai kenang-kenangan.

Zhou Mi dan Vey mengenakan setelan pakaian santai yang sama hari ini. Kaus bergambar Snoopy dengan rompi berwarna coklat serta celana berwarna cokelat. Zhou Mi mengenakan celana bermuda dengan banyak kantong sedangkan Vey mengenakan hotpants hingga setengah paha. Di mata Vey, Zhou Mi tampak perfect hari ini dengan kacamata hitam dan topi abu-abunya.

“Kita sampai…wahhh…indahnya,” seloroh Zhou Mi sambil memarkirkan mobilnya di area yang sudah ditentukan. Sembari menggamit tasnya, Vey beranjak mengikuti Zhou Mi disisinya. Sambil bergandengan tangan, mereka melangkah menyusuri pantai dengan banyak karang-karang hitam, mendekat ke celah tebing dan…

“Wooaaahhh….”

Kedua orang itu berteriak kagum bersamaan. Mata mereka terpaku pada satu titik tinggi di antara celah tebing yang menumpahkan berliter-liter air tawar dari sungai di atasnya dan langsung jatuh ke laut membaur dengan kadar garam di dalamnya. Mereka terhipnotis. Bahkan tanpa sadar kaki mereka melangkah semakin dekat pada titik itu.

“Hyunnie…aku rasa aku tahu kenapa kau begitu menyukai air terjun,” ujar Zhou Mi sambil melirik yeoja yang measih terpejam di sebelahnya itu. Vey memang memejamkan matanya, menghirup nafas dalam-dalam dan merentangkan tangannya saat anak-anak air yang kecil menimpa wajahnya. Ia sama sekali tak mendengarkan kata-kata Zhou Mi sehingga namja tampan itu berdiri di belakangnya dan memeluk pinggang yeoja itu erat.

“Zhou Mi-ssi…”

“Wo Ai Ni, Nona Jung,” ujar Zhou Mi lembut sambil mengecup pipi Vey. Hati Vey berdebar kencang. Ia bersyukur Zhou Mi memeluknya dari belakang karena jika namja itu memeluknya dari depan, sudah pasti Zhou Mi akan mendengar debar jantung Vey. Namun itu tak adil bagi Zhou Mi karena ia yakin Vey bisa merasakan bahwa di punggungnya, jantung Zhou Mi sudah mampu mengalahkan genderang yang bertalu.

“I Love You too, Zhou Mi…”

“Sebentar lagi aku akan jadi ‘suami’mu. Jadi panggil aku gege , ya?” tanya namja itu sambil tersenyum. Vey mengangguk, “Baiklah…Ge, aku punya sesuatu untukmu”.

Yeoja itu merogoh tasnya, lalu memasangkan syal buatannya di leher Zhou Mi. namja itu terdiam, hanya memperhatikan gerak-gerik Vey. Namun sedetik kemudian, namja itu memegangi kedua tangan Vey, mengunci posisinya hingga yeoja itu tak bisa berkutik. Dan yang terjadi selanjutnya adalah Zhou Mi menyapu sekilas bibir yeoja di depannya itu dengan lembut. Vey bahkan bisa merasakan betapa gemuruh dada mereka saling berdentuman satu sama lain.

============================================================

Penginapan, Seugwipo – Jeju
18 April 2012, 23.00 KST

Vey berlari tergesa melintasi ruangan tempat para kru berkumpul, Zhou Mi juga sedang di sana, tiduran di atas sofa putih. Mereka kaget melihat wajah Vey yang keruh dan air mata membanjiri matanya.

“Nona Jung, apa yang terjadi?” teriak salah seorang kru. Zhou Mi beranjak bangkit dari tidurnya, menghampiri Vey yang tampak sangat kacau dan menatapnya dengan geram.

“Aku mundur dari acara ini!” teriak Vey sambil menatap Zhou Mi dengan kejam. Namja itu kaget setengah mati. Matanya yang sipit membelalak, menatap Vey dengan keheranan.

“Apa masalahnya Hyun Jin-ssi? Kenapa begitu tiba-tiba?” tanya Lee Gae-un dengan wajah khawatir. Mereka menatap Vey dengan sorot mata penasaran, tentu saja, lebih-lebih Zhou Mi. baru tadi siang mereka sukses dengan kencannya dan besok adalah hari pernikahan mereka. kenapa tiba-tiba…

“Ada seseorang yang memberikanku email bahwa sekarang restoranku yang di Beijing diambil alih oleh orang-orang yang tak menyukai keberadaanku di sisi Zhou Mi. mereka tak menerimaku ‘menikah’ dengannya. Aku sebagai pemilik takkan rela mereka merusak properti usahaku. Lebih baik aku mundur!!!” teriak yeoja itu disela tangisnya.

“MWO?!” teriak Zhou Mi kaget. Ia tak menyangka akan ada reaksi seperti ini. Beberapaa kru memasang wajah bersalah, namun mereka diam dan saling lirik.

“Aku akan ke China saat ini juga!” yeoja itu lalu beranjak keluar dari penginapan. Kru langsung kalang kabut.

“Kejar dia Zhou Mi-ssi!” teriak Lee Gae-un geram, Zhou Mi menyusul yeoja yang kini sudah berlari menjauh dari penginapan, menyusuri gelapnya jalan hanya dengan membawa ponsel saja.

Zhou Mi mengambil mobil, lalu menyusul yeoja itu. Ia khawatir karena hari sudah sangat malam dan ia tak ingin yeoja itu kenapa-kenapa.

Sementara Vey terus berlari menyusuri satu-satunya jalan menuju ke pusat kota untuk menemukan setidaknya bus yang bisa membawanya ke Bandara. Saat itu ia hanya mengenakan gaun tidur tipis dengan sweeter rajutan berwarna biru muda.

TIIIINNN….TIIINNNN!!!

“Hyunnie-ya! Apa yang kau lakukan?! Kenapa begitu tiba-tiba?” Zhou Mi turun dari mobil dan berlari menghampiri yeoja itu. Vey menatap Zhou Mi dengan tatapan yang sulit diartikan.

“Maafkan aku, Zhou Mi-ssi. Aku tak bisa melanjutkannya,” isak Vey. Zhou Mi langsung memeluknya.

“Aku tak pantas mendampingimu meskipun hanya dalam skenario seperti ini. Aku tak ingin mereka mengacaukan usahaku,” isak Vey.

“Kenapa kau tega seperti ini Vey? Kau tega berpura-pura tak mengenaliku, meski kau tahu aku adalah Mi-tang kecil yang selalu menemanimu dulu. Kau memberiku harapan tinggi, seolah aku bisa kembali menjalani masa silam bersamamu. Tapi … aku tahu bagimu ini hanya skenario. Tapi tidak bagiku Vey. Kau tahu aku berusaha keras untuk tidak mengucapkan ‘Vey’ karena panggilan itu kusiapkan jika kelak kau sudah siap, tapi kau ingin meninggalkanku malam ini…” ujar Zhou Mi panjang lebar. Namja itu sudah tak bisa lagi menahan perasaannya. Ia tahu Hyun Jin adalah Vey-nya semasa kecil. Cinta pertamanya.

“Kau? Kau menyadarinya Zhou Mi-ssi?”

“Panggil aku gege, bodoh!” ujar Zhou Mi merenggut, namun pelukannya masih erat.

Vey merenggut. Diliriknya jam mungil di pergelangan tangannya. Ini hampir tengah malam. Ia tak ingin gagal.

“Apa benar restoranmu di rusak?” tanya Zhou Mi pelan. Vey terdiam, mencoba mengulur waktu.

“Aku tak tahu, sekretarisku mengatakan begitu,” ujar yeoja itu kalem. Zhou Mi tersenyum, “Bukankah asistenmu ada di Gwangjin, lebih baik dia yang mengurusnya. Kau harus tetap melanjutkannya, jangan merusak namamu sendiri dan juga namaku. Kajja,” Zhou Mi menggiring Vey yang kini pasrah masuk ke mobil.

-xXx-

19 April 2012 , 00.00 KST
Penginapan Seugwipo

“SURPRISEEEE!!!!!!”

Teriakan yang memekakkan telinga itu langsung menyambut kedatangan Zhou Mi dan Vey kembali setelah aksi melarikan diri tadi.

“Happy birthday to you…happy birthday to you…Happy birthday uri Zhou Mi, happy birthday to you !!!!!” teriak semua kru WGM dengan ceria mengusik ketenangan malam. Zhou Mi terpaku di tempatnya manakala Vey menepuk pundaknya dari belakang, memaksanya berbalik dan menemukan Vey membawa sebuah kue tart berisi 26 lilin kecil, sejumlah umurnya.

“Happy birthday Ge! Ayo make a wish!” ujar Vey sambil tersenyum. Zhou Mi tersenyum penuh haru, ia memejamkan matanya pelan seolah berdoa lalu meniup lilin-lilin itu hingga padam.

“Xie xie! Gomawo yeorobeun! Xie Xie Vey,” spontan Zhou Mi mengecup sekilas pipi yeoja-nya, dan mendapat tepuk tangan riuh dari seisi ruangan.

============================================================

19 April 2012
~Wedding Day~

[Camera mode : ON]

Sumpah pernikahan telah terucap di sebuah kapel kecil yang dibuat khusus di sebuah paviliun yang ada di taman wisata air terjun Cheonjiyeon. Tempat itu merupakan pilihan Vey dan Zhou Mi alih-alih mereka menyewa ballroom hotel disana.

Pernikahan ini sekaligus merayakan ulang tahun Zhou Mi yang ke-26. Namja tampan itu tak henti-hentinya menebar senyum kepada para undangan yang pada kenyataannya adalah beberapa member Super Junior yang menyempatkan diri untuk hadir. Sang leader tampak hadir disana bersama sang ‘istri’ Shin Seung Ri. Begitu juga Kim Heechul yang juga dikenal akrab oleh Zhou Mi, tampak hadir bersama pasangannya Choi Rae Hee, seorang gadis manis yang sangat pendiam dan kalem.

“Aku sudah wanti-wanti bila kau tak datang, Hyung. Aigoo…inikah Nona Choi yang sering kau ceritakan? Annyeong Choi Rae Hee-ssi…joneun Zhou Mi imnida. Gamsahamnida, sudah datang dan mendampingi hyung-ku yang aneh ini,” ujar Zhou Mi sambil menerima dua buah kado besar yang disodorkan Heechul kepadanya.

“Annyeong Zhou Mi-ssi. Selamat atas pernikahanmu ya…Jung Hyun Jin-ssi, selamat atas pernikahanmu. Semoga kalian menjadi pasangan yang penuh kebahagiaan,” ujar Rae Hee sambil memeluk Vey.

“Gamsahamnida, Choi Rae Hee-ssi. Aku sangat senang bisa mengenalmu, dan juga Kim Heechul-ssi,” ujar Vey sambil tersenyum ke arah pasangan yang tampak menawan hari itu.

“Aigoo…aigoo…mianhae aku datang terlambat,” sebuah suara beserta sosoknya muncul di belakang Heechul. Sang leader beserta istrinya, Park Jung Soo dan Park Seung Ri. Mereka benar-benar sangat serasi hari itu.

“Hyung, kau datang? Ahh~ annyeong Seung Ri noona, gomapta sudah menyempatkan diri untuk datang,” ujar Zhou Mi dan Vey menerima pelukan dari Seung Ri.

“Wah…siapa yang menyukai tempat ini? Indah sekali…” ujar Seung Ri sambil melemparkan pandangannya ke arah air terjun.

“Ini pilihan istriku tercinta,” ujar Zhou Mi sambil merangkul lembut pundak Vey. Mereka semua hanya berbincang sebentar karena mata Vey melihat sosok asisten dan sahabatnya.

“Eonnie, Hye Bin-ah…aku menunggu kalian!!!” Vey langsung menghambur memeluk dua orang itu sekaligus. Wajahnya bersinar-sinar penuh kebahagiaan, wajah yang juga ditunjukkan oleh dua orang yang dipeluknya.

“Chukkae chagiya…!!!” teriak Hye Bin sambil tersenyum.

Vey senang sekali melihat kehadiran asistennya, Xiu Hui serta sahabatnya Shin Hye Bin. Vey saat ini tampak memamerkan gaun pernikahannya pada Hye Bin, yang disambut Hye Bin dengan tatapan penuh kekaguman.

“Hey, apakah kalian keberatan jika aku meminjam istriku sebentar?” seloroh Zhou Mi tiba-tiba muncul dari belakang Vey, membuat yeoja itu terlonjak pelan.

“Gege! Kau mengagetkanku!” ujar Vey sambil melotot pada suaminya. Hye Bin dan Xiu Hui tersenyum lalu memberi tanda ‘silakan’ maka Zhou Mi menarik tangan istrinya menuju paviliun kecil yang menghadap langsung ke air terjun. Menikmati alunan musik cadas yang tercipta dari suara alam yang tercipta dalam gemericik air, membuat mereka terhanyut dan mulai melakukan gerakan-gerakan dansa pelan.

============================================================

Setelah menikah, tentunya mereka akan mencari rumah sebagai tempat tinggal bersama. Jika di Seoul sangat susah menemukan rumah karena kebanyakan penduduk tinggal di apartemen, tidak demikian halnya di Jeju.

Pariwisata di sini menawarkan banyak bungalow dan villa yang bisa di sewa oleh para turis selama liburan di pulau vulkanik dan tabung lava milik Korea Selatan ini.

Sebuah rumah minimalis di kawasan kota Jeju pusat menarik perhatian pasangan suami istri ini. Sebuah rumah yang di cat dengan warna biru muda, dengan dua kamar tidur besar, sebuah kamar mandi yang lengkap dengan bathup dan shower, serta ada ruang makan, dapur dan juga teras yang langsung menghadap ke laut lepas.

-xXx-

~Awal tinggal bersama~
[Camera mode : ON]

Karena hanya menempati rumah ini berdua saja, maka Zhou-Hyun membuat daftar ‘pelaksanaan kewajiban’ di antara mereka.

“Hei…hei kenapa aku mendapat tugas memasak juga?” protes Zhou Mi ketika Vey mencantumkan ‘memasak’ di jadwal Zhou Mi hari Kamis.

“Itu tantangan untukmu, Ge. Kau harus menerimanya!” seloroh Vey sambil menarik kembali kertas itu ketika Zhou Mi hendak menghapusnya. Zhou Mi mendengus tak suka.

“Mwoya?! Andwe!!! Aku tak mau membereskan kebun! Aku tak bisa, aku tak ahli!” teriak Vey sambil menghapus tulisan berkebun dijadwalnya. Zhou Mi terkekeh, mengangkat kertas itu tinggi-tinggi, yang tentu saja tak bisa diraih oleh Vey, karena dia terlalu pendek di banding Zhou Mi.

-xXx-

~Seminggu setelah tinggal bersama~

Vey dan Zhou Mi berencana mengunjungi Seongsan Ilchulbong atau Puncak Matahari Terbit yang terletak di sebelah timur kota Jeju. Tempat itu adalah kawah gunung berapi yang memiliki luas 99.000 m2 dan tinggi 182 m diatas permukaan laut.

“Ya! Gege, apa yang kau lakukan begitu lama di kamar mandi? Kita akan ketinggalan matahari jika tidak bergegas,” ujar Vey penuh semangat sambil memasuki mobil Audy biru toska milik mereka. Zhou Mi mengerutkan wajahnya kesal sembari mengenakan kacamata hitamnya lalu bergegas masuk ke mobil.

Zhou Mi menatap istrinya dengan pandangan yang susah dijelaskan.

“Ada apa?”

Zhou Mi tak menjawab, dia kembali fokus menyetir, sementara Vey menatapnya heran. Muncul banyak pertanyaan dalam benaknya.

“Hyunnie-ya…”

Yeoja itu menoleh lembut pada suaminya, “Ye?”

“Aku lapar. Kau tak membuatkan sarapan untukku hanya kau sangat ingin melihat matahari terbit,” ujar Zhou Mi pelan. Mata Vey membulat, “Ya Tuhan … apa kau benar-benar lapar?”

“Kenapa kau begitu menyukai alam? Kau tak menyukai fashion…”

Vey terdiam. Ia begitu ingin menjawab pertanyaan suaminya. Namun ia tak ingin membuat sang suami merasa bersalah atas apa yang membuat Vey tak menyukai fashion layaknya Zhou Mi.

“Aku menyukai sesuatu yang asri, misalnya…”

“Muara sungai Yangtze ketika kita masih kecil.”

Zhou Mi menatap Vey dengan lembut. Vey merutuk dalam hati, apa Zhou Mi membaca pikirannya?

Ya, dia mencintai alam karena ia begitu mencintai kenangan masa kecilnya bersama Zhou Mi. Ia tak menyukai fashion karena Zhou Mi pernah mengatainya yeoja gendut dan kumal tak pantas di dandani. Itu kenyataan yang pahit sejauh kenangan yang dimilikinya waktu kecil.

Zhou Mi menatap pelan istrinya sekilas. Beberapa saat kemudian ia menyadari bahwa ia telah merusak suasana paginya. Tangannya terjulur ke puncak kepala Vey, membelai rambut hitam yeoja itu dengan lembut.

“Kita sampai,” ujar Zhou Mi sambil menepikan mobilnya di parkiran. Yang mereka perlukan sekarang adalah menguatkan kaki berjalan menuju puncak.

-xXx-

Zhou Mi mengeluarkan kameranya, mengabadikan setiap momen indah yang dijumpai matanya. Sementara Vey tertegun di bibir tebing menanti detik-detik kehadirab sang mentari yang sudah mengeluarkan semburat jingga keemasannya di horison.

Zhou Mi mengarahkan fokus lensanya ke arah sang istri. Tersadar oleh blitz yang menyerbunya, Vey melotot pelan pada Zhou Mi tepat dengan bunyi ‘klik’ dan Zhou Mi langsung tertawa terbahak-bahak melihat wajah jelek Vey.

“Hapussss!!!” teriak Vey sambil mengejar Zhou Mi yang berlari menjauhkan kameranya. Tingkah mereka mengundang tawa beberapa orang yang hadir disana. Mereka terus berkejar-kejaran hingga akhirnya Vey kelelahan dan menjatuhkan dirinya di tanah.

“Yaaa! Jangan mengotori pakaianmu, chagiya!” serta merta Zhou Mi menarik agar Vey bangkit.

“Aku lelah…” ujar Vey sungguh-sungguh. Zhou Mi menariknya hingga bangkit dan menopangnya dari belakang. Kedua tangannya melingkar di bahu Vey, sementara namja itu meletakkan dagunya di pundak Vey. Matahari telah menampakkan wujudnya perlahan, memukau mata dan banyak lensa yang mengabadikannya, termasuk Zhou Mi.

“Cinta kita seperti matahari. Muncul perlahan, tapi semakin lama akan semakin besar dan bersinar,” ujar Zhou Mi sambil mengecup sekilas pipi istrinya. Vey memutarbalikkan tubuhnya, berganti memeluk erat Zhou Mi dengan segenap jiwanya.

============================================================

30 April 2012
15.00 KST

Hari ini Zhou Mi dan Vey mendapat undangan ‘pernikahan’ dari si killer smile, Kim Kibum. Namja itu akan menikahi yeojachingunya Yoon Eun Mi, besok di Cheongyecheon Stream Park, yang ada di pusat kota Seoul. Sebuah tempat rekreasi dan terdapat sungai buatan di dalamnya. Karena mereka tinggal di Jeju, maka mereka harus kembali ke daratan Korea hari ini.

“Hyunnie-ya, apakah kau sudah siap?” terdengar sebuah seruan yang datang dari arah ruang tamu. Sementara itu, Vey yang sudah selesai merias dirinya, segera beranjak menyusul Zhou Mi yang sudah bersiap masuk mobil. Mereka akan pergi ke daratan Korea menggunakan pesawat terbang, lalu akan menyewa hotel untuk satu malam.

**

1 Mei 2012
Cheonggyecheon Stream Park, Seoul

Mata Vey tak henti-hentinya memandang takjub tempat resepsi pernikahan Kim Kibum ini. Sementara Zhou Mi tersenyum kecil melihat beberapa foto prewedding yang terpajang.

Zhou Mi menarik tangan Vey untuk mengucapkan selamat pada pasangan pengantin itu. Kibum tak henti-hentinya mengumbar senyum mematikannya, sementara yeoja cantik di sebelahnya tampak erat memegang sebelah tangan Kibum sambil tersenyum bahagia.

”Aigoo akhirnya…uri killer smile menemukan pengantinnya… Chukkae Kibum-ah… Smoga kalian menjadi pasangan paling berbahagia sedunia… Dan jangan sampai kau membuat yeoja secantik ini menangis…arraseo?!” ujar Zhou Mi sambil menjabat tangan Kibum yg tak henti-hentinya memamerkan senyum tanda bahagianya. Vey menyodorkan sebuah kotak besar berwarna merah kepada pengantin Kibum sembari berucap, ”Chukkae Kibum-ssi, Eun Mi-ssi … Aku berharap kalian selalu dilimpahi kebahagiaan. Kalian benar-benar pasangan yg serasi. Aq iri pada kalian”.

“Hyung, gomawoyo sudah mau hadir di pernikahan kami ne? aku benar-benar bahagia. Dan mianhae, waktu kalian menikah aku tak sempat datang,” ujar Kibum sambil tersenyum. Zhou Mi menepuk pundak namja itu sembari berkata, “Gwenchanna Kibum-ah”.

Vey memberikan satu pelukan kpada Eun Mi, dan Zhou Mi merangkul Ki Bum. Setelah sempat berbincang sebentar, akhirnya Pasangan Zhou-Hyun bergabung dengan undangan lainnya.

===========================================================

19 Mei 2012
Kota Jeju, 09.00 KST

Zhou Mi berdiri di dapur dengan apron di badannya. Matanya menatap bingung pada banyak bahan masakan di hadapannya. Ada dada ayam, daging sapi, aneka macam sayur, dan bumbu-bumbu lainnya.

Vey sibuk berkutat dengan di kebun depan rumah. Ada begitu banyak tanaman terawat disana. Berbagai macam kaktus mini, bonsai, tanaman mawar, dan lain-lainnya. Yeoja itu tak tahu apa yang harus dilakukan ketika melihat gunting kecil di tangannya.

Zhou Mi berlari ke kamarnya, mengambil I-padnya lalu mencari jenis makanan yang gampang dimasak. Tiba-tiba seperti ada bohlam bersinar di kepalanya. Kenapa ia tak membuat capjhae?

Zhou Mi lalu dengan cepat memasak masakan yang terakhir kali dibuatnya sejak dia duduk di bangku Senior High School. Tangannya bergerak lincah memotong-motong sayur dan daging. Lalu menumis bumbu dengan cekatan.

~AAAAAARRRRRGHHHHHHHH~

Zhou Mi nyaris melempar spatula-nya ketika mendengar teriakan nyaring dari arah taman depan. Namja itu panik dan meninggalkan masakannya begitu saja. Ia berlari ke sumber suara.

Dan matanya terbelalak melihat pemandangan menakjubkan yang menghiasi tamannya sekarang. Beberapa pot terjungkal di tanah, beberapa bonsai kehilangan tangkai-nya, dan Vey terduduk di lantai dengan wajah ketakutan.

“Chagiya?! Apa yang terjadi? Apa yang kau lakukan?!” tanya Zhou Mi sambil menghampiri Vey yang memasang wajah pucat seperti melihat hantu.

“A…ada kodok…” gumam Vey sambil menunjuk seekor makhluk berwarna hijau kecoklatan yang melompat riang di celah-celah pot kaktus. Zhou Mi membantu Vey berdiri saat yeoja itu berkata, “Bau apa ini?”

“AAAAAHHHH!!!” giliran Zhou Mi yang berteriak sambil berlari secepat kilat ke dalam rumah, sementara Vey menyusul setelah sekali lagi bergidik ngeri menatap makhluk tanpa dosa itu.

-xXx-

Zhou Mi dan Vey duduk berhadapan di meja makan berbentuk persegi berwarna hitam yang terbuat dari kayu eboni. Zhou Mi tak mengeluarkan sepatah katapun saat Vey memelototi ‘hasil karya’ suaminya itu.

“Ini apa?” tanya Vey polos sambil menunjuk masakan Zhou Mi yang bertabur ‘sesuatu’ berwarna cokelat kehitaman.

“Ini kan juga karena aku meninggalkannya setelah mendengar teriakanmu itu! Lebih baik kita makan diluar saja ya?” Zhou Mi menatap iba pada istrinya.

“Tidak perlu, chagi. Aku akan memakan masakanmu”.

Di bawah tatapan memelas Zhou Mi, Vey mengambil tiga sendok Chapjjae buatan suaminya itu dengan penuh senyum setelah menyisihkan bagian yang gosong tentunya. Setelah itu, dengan hati-hati Vey mendorong mangkuk berisi chapjjae itu ke hadapan Zhou Mi. Lalu yeoja itu menyendokkan nasi lalu menyodorkannya lagi ke arah suaminya. Setelah itu baru dia mengambil untuk dirinya sendiri.

Zhou Mi tak langsung memakannya. Dalam hati ia berdoa, semoga mereka tidak keracunan karena masakan gosong ini. Diperhatikannya gerak-gerik Vey yang memasang wajah penuh semangat ketika menyuapkan sayur itu ke mulutnya. Zhou Mi sudah sangat yakin istrinya akan tersedak dan menyemburkan makanan itu keluar. Namun…

“Ini enak,” ujar Vey sambil tersenyum, “Ayo makanlah”.

Senyum Zhou Mi terkembang meski ia tak yakin 100%, namun tangannya bergerak juga menyendok makanan di hadapannya lalu memasukkan mulutnya perlahan.

Asin!

Buru-buru Zhou Mi mengambil segelas air sebagai pendorong agar makanan itu lekas masuk ke kerongkongannya tanpa perlu merasakan asin dilidahnya. Buru-buru tangannya menghentikan tindakan Vey menyuap lagi makanan untuk yang ketiga kalinya, setelah wajah yeoja itu terlihat sangat kesusahan menelan.

“Ada apa?” tanya yeoja itu polos.

“Tak perlu memaksakan makanmu. Aku akan mengajakmu makan di luar saja. Kau bisa keracunan,” ujar Zhou Mi sambil membereskan sisa makanan yang ada di atas meja, lalu serta merta menarik tangan istrinya untuk keluar.

“Kita mau kemana? Hey!” teriak Vey pontang-panting mengikuti langkah lebar Zhou Mi yang memang memiliki kaki super panjang. Vey tahu, suaminya itu sedang menahan malu karena masakannya hancur. Tapi Vey tak keberatan untuk memakannya, meskipun terasa sangat asin di lidahnya. Tak peduli bagaimana rasanya, itu adalah hasil masakan suaminya.

“Yeobo!” teriak Vey sambil menepis tangannya hingga terlepas dari pegangan Zhou Mi. Mereka berhenti di tengah-tengah taman yang masih porak-poranda. Zhou Mi berbalik menatap istrinya.

“Kau tak perlu melakukan ini semua. Tak perlu merasa bersalah karena masakanmu keasinan. Kau lihat apa yang aku lakukan terhadap tanaman-tanaman tak berdosa ini? Aku payah Mi-tang!” teriak Vey sambil berusaha menahan air matanya yang nyaris menerobos pelupuk matanya.

“Tapi aku telah ‘memaksamu’ untuk menelan makanan-makanan hangus itu. Kau terpaksa menelannya untuk menyenangkanku, ya kan?! Kau yang terbiasa memakan sesuatu yang memiliki cita rasa tinggi harus menelan masakan asin seperti itu, kau pasti merasa sakit kan?!” cerocos Zhou Mi panjang lebar. Vey menggeleng.

Yeoja itu melangkah pelan ke arah Zhou Mi, lalu menggamit kedua tangan suaminya. “Tak ada istilah terpaksa untukmu, Mi-tang”.

Zhou Mi tak mampu berkata-kata lagi, ditatapnya kedua manik mata istrinya yang memancarkan sinar ketulusan. Hatinya kembali berdebar, semakin kencang tak karuan. Nafasnya sesak ketika melihat senyum manis yeoja dihadapannya itu. Ia tak bisa menahan hasrat lagi untuk tak memeluk istrinya.

Vey tersentak manakala Zhou Mi menarik tubuhnya ke dalam rengkuhannya. Hangat dan nyaman. Tentus saja membuatnya merindu. Ia bahkan tak pernah membayangkan kalau ini kenyataan. Kenyataan yang didapatnya dalam sebuah skenario. Tapi hatinya tak bisa menolak. Ia sudah terlalu lama menunggu. Ia senang, meski hanya beberapa saat. Otaknya mulai bekerja normal lagi saat ia menyadari bahwa pernikahan ini akan selesai beberapa hari lagi.

============================================================

29 Mei 2012
~Malam Terakhir~

[Camera mode : ON]

Langit tampak cerah menyelimuti Seugwipo. Bintang-bintang bertaburan tanpa awan sedikitpun yang menutupi keindahan mereka.

Dua insan sedang duduk di ayunan taman rumah mereka yang asri meski dalam keremangan malam. Mereka duduk berdampingan dalam satu bangku ayunan dengan memegang secangir hot chocomocca di tangan masing-masing. Berdua menatap langit dengan senyum.

“Malam terakhir ya?” seloroh Zhou Mi memecah kesunyian di antara mereka. Vey tersenyum, sebuah senyuman yang menandakan ia tak ingin berpisah. Sebuah senyuman yang penuh keengganan.

“Aku tak ingin…” ujar Vey lirih. Matanya tak beralih dari langit yang semakin kelam. Sementara Zhou Mi memandanginya lembut. Tangannya bergerak untuk merangkul bahu Vey.

Malam ini, Vey dan Zhou Mi sama-sama mengenakan piyama berwarna cokelat muda dengan garis-garis berwarna putih dan hitam yang mereka beli di sebuah toko kecil di Jeju beberapa hari lalu.

“Nyanyikan aku sebuah lagu ge…bukankah kau selalu bernyanyi solo tiap konsermu?” Vey tersenyum kecil sambil melirik Zhou Mi yang garuk-garuk kepala.

“Eung…lagu apa?”

Vey tampak berpikir sejenak, lalu menyebutkan sebuah lagu cinta yang terkenal di China *Author ngga tau deh lagu apa itu ==a*

“Aku tak hafal liriknya,” ujar Zhou Mi berkilah, Vey merenggut memasang wajah masam.

“Ayolah Ge…please,” yeoja itu memajang wajah aegyo-nya. Wajah memelas yang takkan sanggup ditolak Zhou Mi karena hasil riset Vey, setelah beberapa kali memasang wajah itu, Zhou Mi langsung menuruti keinginannya.

“Ahhh baiklah…baiklahh…aku akan menyanyikan lagu Super junior M saja, bagaimana?”

Maka sebuah lagu mengalir dari bibir Zhou Mi. suaranya yang merdu menelusup ke celah-celah sunyinya malam, memberi kehangatan dalam hati Vey. Refleks, Vey menyandarkan kepalanya ke bahu Zhou Mi. tanpa sadar, suaranya mengalun, menemani tiap rangkaian kata yang diucapkan suaminya itu. Berdua menyanyikan lagu yang sangat familiar di telinga mereka. satu lagu yang dinyanyikan oleh Super Junior M – Destiny.

shì jiè shì zuò gū dú de chéng bǎo
bí cǐ xún zhǎo
dàng tiān shǐ chuī xiǎng ài de hào jiǎo
kàn dào nǐ de wēi xiào

wǒ zài zhè lǐ nǐ zài bǐ àn xún mì
rì yè cóng wǒ men zhī jiān liú qù

zài rén hái lǐ bǎ shou shēn gěi le nǐ
wǒ xiǎng zhuā zhù mìng yùn de yǒng qì
ài yí lù qí qū wǒ zhōng yū néng yōng bào nǐ
yù shàng nǐ de mìng yùn xiàn chù pèng dào zhēn ài de yí shùn jiān
liǎng gè rén de mìng yùn xiàn liǎng tiáo lù yǒu le yí yàng zhōng diǎn

Mereka terus menyanyi bersama hingga tiga kali mengulang lagu yang sama, hingga mereka rasakan tubuh dan hati mereka lelah, hingga malam semakin larut, hingga kepala mereka saling terkulai lemas. Terlelap.

Kepala Vey bersandar di bahu Zhou Mi dan kepala namja itu menindih kepala Vey. Mereka berdua terlelap dalam buaian angin dan dekapan malam yang semakin dingin.

============================================================

30 Mei 2012
Dorm Super Junior, Star City Apartemen, Gwangjin – Seoul

Vey mencengkeram erat lengan kiri Zhou Mi. pasangan itu tampak serasi sekali malam ini dengan warna pakaian yang senada. Zhou Mi menggunakan setelan jas hadiah ulang tahun yang diberikan oleh HEE couple saat ulang tahunnya. Sementara Vey mengimbanginya dengan sebuah dress berbahan satin hitam. Sebuah dress yang terbuka di bahunya dengan kerutan-kerutan kecil dibagian dada. Rambut yeoja itu dibiarkan tergerai dan wajahnya hanya dirias dengan make up natural.

Mereka akan mengakhiri acara perpisahan ini dengan pasangan-pasangan member Super Junior lainnya.

Saat mereka tiba, dorm sudah di sulap menjadi seperti tempat pesta yang mewah. Setelah menyapa beberapa pasangan, ZhouHyun couple mencari tempat di sudut ruangan.

“Hyunnie-ya…aku ingin kau mengakui sesuatu,” ujar Zhou Mi pelan sambil menatap manik mata Vey intens. Yang ditatap menjadi kelimpungan, tangannya kebingungan hendak meletakkan gelas wine-nya dimana.

“Hyunnie-ya, tatap aku…” tangan Zhou Mi terulur mengelus pelan pipi Vey, memaksanya dengan lembut agar balas menatap namja itu.

“Mengakui apa?” tanya yeoja itu sambil menatap Zhou Mi pelan. Namja itu tersenyum, “Apakah kau mencintaiku?”

Demi benda mengerikan apapun di dunia ini, Vey bersumpah sangat ingin mengatakan ‘YA’ saat itu juga. Namun lidahnya kelu, jantungnya melontarkan dentuman-dentuman dahsyat yang tak mampu ditahannya sendiri.

“Kau tahu siapa aku. Kau merindukan aku…tapi apakah kau tahu betapa keras usahaku mencarimu sejak kau pindah ke Beijing? Hingga aku salah mengartikan bahwa ‘Vey’ itu adalah Victoria F(x). Katakan Hyunnie…jujurlah padaku,” ujar Zhou Mi lembut sambil meraih kedua tangan Vey lalu menggenggamnya erat.

Sementara Vey kehabisan akal untuk menolak hatinya menjawab akhirnya menyerah.

“Aku cukup tahu diri dengan fakta bahwa kau adalah seorang bintang dan aku hanyalah orang yang mengagumimu bahkan sedari aku belum bisa berjalan. Aku mencintai segala hal tentang dirimu, bahkan bahwa kau mengataiku gendut. Aku tak menyerah, aku berusaha agar kau menyadari bahwa aku ada untukmu. Segala hal yang aku rintis adalah sebuah pembuktian. Pembuktian bahwa kau bisa menemukan aku lagi. Disini, di acara ini. Aku mengakui bahwa aku mencintaimu…aku tak ingin ini hanya sebatas dalam skenario, tapi kenyataan yang bisa aku genggam…” ujar Vey panjang lebar. Yeoja itu tak sanggup menahan air mata yang merembes keluar tanpa izin.

“Vey, Wo ai ni ! Aku takkan melepaskanmu kali ini. Tidak akan ada skenario lagi, semuanya akan jelas dan nyata. Aku menyayangimu, aku mencintaimu sepenuh hatiku. Kau selalu menyimpan anting itu, sebuah kebanggaan yang sangat luar biasa. Kau yeoja yang sangat pantas untuk mendampingiku selamanya. Jadi…” tangan Zhou Mi bergerak ke saku celananya, lalu mengeluarkan kotak kecil, membukanya.

“Would you marry me? For Real?” tanya Zhou Mi bersungguh-sungguh. Vey menutup mulutnya dengan kedua belah tangannya, tangis harunya pecah. Dan tentu saja ia tak menolak.

“I do,” ujarnya sambil mengangguk. Maka Zhou Mi pun menyematkan cincin bermata ungu kebiruan itu ke jari manis Vey dan langsung memeluknya. Tanpa mempedulikan keadaan sekitarnya, Zhou Mi menyapu bibir Vey dengan bibirnya. Sebuah ciuman yang lembut dan menenangkan hati.

===========================================================
Interview Session ~~ We Got Married

Selama lima puluh hari merasakan suka dukanya tinggal bersama, Vey dan Zhou Mi merasakan bahwa hal terpenting dalam menjalin sebuah hubungan adalah kepercayaan. Mereka berdua mempunyai tingkat kepercayaan yang tinggi terhadap pasangannya.

“Dia yeoja yang hebat menurutku. Dia…entahlah…ada yang bergejolak disini tiap kali menatap matanya. Dan dia pintar memasak tapi sangat payah dalam fashion dan berkebun. Dia mampu membuatku tertawa hanya dengan memandangku dengan wajah aegyo-nya,” ujar Zhou Mi jujur saat menjalani sesi wawancara bersama Park Mi Sun, Kim Jung Min, and Kim Na Young, tiga MC andalan We Got Married.

“Jadi apakah kau jatuh cinta dengannya?” tanya Park Mi Sun sambil tersenyum. Zhou Mi tak menjawab, mengundang tanya jawab besar di kepala tiga MC itu.

“Tentu saja aku mencintainya, karena itulah aku akan benar-benar menjadikannya istriku selamanya,” Zhou Mi berujar tegas dan sukses mendapatkan acungan 2 jempol dan Kim Na Young.

-xXx-

Vey tersenyum malu saat Kim Na Young melontarkan pertanyaan yang membuatnya tak bisa berbicara.

“Ahhh…dia tipe-ku tentu saja. Seseorang yang tampan, maskulin, dan ceria. Dia benar-benar bisa berbicara panjang lebar tanpa bernafas,” ujar Vey sambil tertawa, diikuti cengiran lebar dari Kim Jung Min dan Park Mi Sun.

“Setelah tinggal bersama, kesan apa yang kau dapatkan Jung Hyun Jin-ssi?” giliran Kim Jung Min yang bertanya.

“Dia adalah sosok suami yang penuh cinta dan penuh kejutan. Dia gentleman…”

“Sesuai namanya kan, Gentleman Mimi, hahahahah,” sela Park Mi Sun sambil tertawa beserta kedua rekannya. Vey hanya memajang cengiran lebarnya.

“Ne, aku rasa dia memang pantas dengan julukan itu. Dia seseorang yang membuat aku selalu merindukan sosoknya setiap hari di sampingku. Dia sosok yang mampu membuatku melakukan apa saja asal dia bahagia. Aku senang bisa ‘bersamanya’,” ujar Vey sambil tersenyum.

“Jadi apakah kau telah jatuh cinta padanya?” tanya Na Young yang sontak membuat aliran darahnya berhenti seketika dan yeoja itu tak mampu mengatakan hal jujur di hatinya.

“Aku telah jatuh cinta padanya bahkan sebelum aku bisa berbicara,” ujar Vey penuh kepastian dan mendapat tepuk tangan dari penonton.

========================= THE END===========================

FF Present ‘SURPRISE?!’ for HEE Couple by Denofa Elixea

vevolo

Tittle                     :  Surprise?!  [HEE Series]

Author                  :  Denofa Elixea

Genre                   : Romance

Rating                   : M

Cast (s)                                 : Choi Rae Hee, Kim Hee Chul, others

Disclaimer          : lixFF©2012 ; All of casts is belong to GOD, their management, and of course belong to themselves ; This FF is totally mine.

Dedicated to      : My beloved dongsaeng, Choi Rae Hee yang ultah tanggal 4 Desember ^^ !! SAENGIL CHUKKAE HAMNIDA :*

Warning              : Perhatikan rating ! Typo dan Miss everywhere !

 

======================== HAPPY READING=========================

“Sial!”

Lagi. Umpatan kecil itu kembali keluar dari bibir gadis yang sedang berdiri di depan sebuah bangunan besar di pusat kota Seoul. HEE Entertainment. Begitu bunyi tulisan besar-besar yang menjadi ikon bangunan tersebut. Dan gadis itu—entah sudah berapa kalinya—kembali menatap sekelilingnya dengan kesal.

Gadis itu cantik. Sangat cantik malah, meski dua alisnya bertaut dan bibirnya tak henti berdecak kesal. Rambut hitam gelombangnya dibiarkan terurai dan sedikit awut-awutan di bagian atas karena keseringan diacak, mungkin sejak sejam yang lalu. Dress abu-abu berompi pink yang dikenakannya tampak chick dengan postur tubuhnya yang semampai. Tungkai kakinya yang putih mulus terekpos begitu saja dan beralaskan stiletto putih dengan tali-tali yang melilit hingga betisnya.

“Ini sudah lewat sejam dan dia belum juga datang! Bisa-bisanya aku punya kakak seper—”

-CKIIIIITTTTTT-

Sebuah Shelby Supercars warna putih metalik berhenti cepat di hadapan gadis itu yang otomatis membuat si gadis itu memasang wajah penuh amarah pada si pengendara mobil mewah itu.

Baca Lanjutannya…

Midnight Sunshine || by Cherish || Present for Me

Ryeo Woo, gadis itu mengerjap saat kecupan lembut mendarat di atas bibirnya. Gadis itu kembali pada kesadarannya setelah beberapa menit yang lalu ia baru saja tenggelam dalam mimpinya.

“Kenapa menatapku seperti itu eoh? Aku bukan hantu,” sahut namja itu sambil mencubit hidung Ryeon Woo dengan gemas.

“Kenapa kau disini?” sahut Ryeon Woo bingung.

Namja itu tersenyum, “Apa lagi? Kajja!”

Ryeon Woo tersentak, namja itu menariknya tanpa permisi. Membuat gadis itu hampir terseret mengikuti langkahnya yang lebar.

[Winter Child backsound]

Ryeon Woo menghentikan langkahnya saat mendengar lantunan musik itu memenuhi ruang pendengarannya. Matanya berbinar saat menangkap sosok yang sangat dikenalnya berdiri dengan senyum mengembang.

“Saengil chukkae Unnie,” sahut seorang gadis sambil menyodorkan tart mungil yang dihiasi lilin diatasnya.

Ryeon Woo tersenyum dan menerima tart itu, “Gomawo Hye Bin-ah.. Ahh jangan menyanyi seperti tadi, suaramu jelek.”

Hye Bin mengerucutkan bibirnya, “Kau dengar Oppa? Jangan memaksaku menyanyi lagi. Suaraku jelek, lain kali paksa saja Rae Hee.”

Ryeon Woo tertawa keras, membuat Hye Bin semakin menekuk wajahnya. Sementara namja yang dipanggilnya ‘Oppa’ hanya menggaruk tengkuknya dengan wajah tanpa dosa.

“YA! Berhenti menertawakanku!”

“Aniya, Hye Bin-ah.. Kemarilah!” sahut Ryeon Woo sambil memeluk Hye Bin hangat.

“Ehem, kau hanya memeluk Hye Bin? Aku tidak?”

Ryeon Woo tertawa ringan, berbalik dan memeluk namja itu dengan erat. Mengecup bibir namja itu lama hingga keduanya terlarut dan melupakan Hye Bin yang melotot melihat pemandangan di hadapannya.

“YA! Geumanhae. Kalian tidak ingat aku masih disini?” sahut gadis itu sambil pura-pura menutup mata dengan tangannya.

Yesung, namja itu tersenyum lalu melepaskan tautannya pada Ryeon Woo dan menatap Hye Bin dengan tatapan geli.

“Kalau kau mau, kau bisa minta pada Si Won nanti.”

Wajah Hye Bin memanas.

“Eotte? Aku akan menelpon dan menyuruhnya kemari sekarang.”

“YA! Ryeon Woo Unnie yang ulang tahun kenapa aku yang dikerjai?”

“AHAHAH.”